Loading...

Komnas Anak : Tidak Ada Toleransi Atas Kekerasan Terhadap Anak!

IMG_20180314_220618

Arist Merdeka Sirait, Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) saat memberikan keterangan kepada media

Jakarta JAYANTARA NEWS

FB_IMG_1515036941798

Arist Merdeka Sirait, Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) menyatakan tidak toleransi kekerasan terhadap anak, apalagi dilakukan oleh orang terdekat atau keluarga korban.

Untuk Penegakan Hukum atas peristiwa kekerasan terhadap Bunga (9) bukan nama sebenarnya yang dilakukan terduga “Namboru” kerabat keluarga dekat anak, Komnas Perlindungan A sebagai Lembaga Independen yang bertugas menjalankan Fungsi Pembelaan dan Perlindungan Anak di Indonesia, mengapresiasi kerja cepat Reskrimum Polres Toba Samosir yang telah menindak terduga pelaku kekerasan dan penganiayaan terhadap seorang yang dilakukan keluarga dekat korban di Tobasa.

Kerja cepat dan tanggap yang dilakukan para Srikandi Penyidik Perlindungan Anak di Unit PPA Polres Tobasa patut ditiru oleh aparatur Penegak Hukum disetiap Polsek di wilayah hukum Tobasa.

Tindak kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan yang dilakukan keluarga dekat terhadap anak  dalam ketentuan pasal 80 ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2014, mengenai perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak, dapat dipidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan denda paling banyak Rp 72 juta.

Dan jika terbukti kekerasan dan ancaman kekerasan serta penganiayaan dilakukan orang terdekat dan kerabat keluarga, dapat ditambahkan 1/3 dari pidana pokoknya dan jika penganiayaan sampai luka berat, pelaku dapat dipidana 5 tahun penjara dan denda Rp 100.000.000,-. Demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait, Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak kepada media di Tobasa melalui media sosial di Jakarta, Rabu (14/03/2018).

Arist menambahkan, atas pengaduan dan informasi yang disampaikan masyarakat kepada aparatur Penegak Hukum di Tobasa atas peristiwa pelanggaran hak anak melalui media sosial  patut diapresiasi. Langkah maju ini adalah salah satu aksi Gerakan Perlindungan Anak “SAHUTA” atau Sekampung serta mendirikan “Rumah Aman Bagi Anak korban kekerasan di TOBASA, yang telah digagas dan diusulkan Komnas Perlindungan Anak kepada Bupati Tobasa bulan Februari lalu.

Aksi lapor masyarakat melalui media sosial  ini juga perlu diteruskan dan dikembangkan oleh Polres Tobasa, sebagai langkah cepat Penegakan Hukum dan mensosialisasi Program Masyarat dan Polisi PEDULI dan  SAHABAT Anak.

(Red JN)