Loading...

Soal Penjualan Fingerprint Secara Paksa, Diduga Disdik Kab Bandung Lakukan Pembiaran

IMG_20190204_164008

JayantaraNews.com, Kab Bandung

Keresahan Kepala SD mengenai harga Fingerprint yang kini sudah beredar di tiap sekolah dasar yang ada di Kabupaten Bandung, mengundang kegelisahan. Pasalnya, antara harga dan spesifikasi Fingerprint atau mesin absensi yang telah dibelinya, tidak sesuai harga.

Baca berita terkait:

Diduga Oknum Disdik Kab Bandung Bermain, Fingerprint Dijual Paksa – http://jayantaranews.com/2019/02/diduga-oknum-disdik-kab-bandung-bermain-fingerprint-dijual-paksa/

Hal ini jelas akan menjadi temuan bagi BPK. Lantas, dalam pemeriksaan LPJ BOS siapa yang akan disalahkan?, karena harga Fingerprint dengan Merk SPC, kalau di toko dijual dengan kisaran harga Rp 600 ribu, sedangkan Fingerprint yang sekarang bsredar di SD yang ada di Kabupaten Bandung dengan merk sama, dan spesifikasi yang sama, dijual dengan harga yang Fantastis, yaitu Rp 2,5 juta.

Kabupaten Bandung yang memiliki sekitar 1.300 lebih sekolah dasar, dan seluruhnya membeli Fingerprint Merk SPC dengan harga Rp 2,5 juta, maka akan terlihat berapa besar kebocoran anggaran BOS dalam pembelian Fingerprint dimaksud. Sedangkan untuk langganan koran saja, menjadi temuan BPK, apalagi ini sudah seharusnya menjadi temuan APH.

Menurut salah seorang Komite SD, IW mengatakan,” Serpertinya ini ada pembiaran di tubuh Disdik Kabupaten Bandung, karena diduga yang menjual paksa Fingerprint ini adalah orang luar Disdik, hanya seolah – olah dibackingi oleh oknum pegawai Disdik Kabupaten Bandung,” jelasnya.

” Coba kalian buka di internet!. Harga Fingerprint Merk SPC dengan speck hanya second sidik jari saja berapa harganya. Di internet, Fingerprint seperti itu hanya dibandrol dengan harga Rp 450.000,- sampai Rp 600 ribu. Tapi yang jadi aneh saya, kenapa tidak ada yang menolak pihak SD yang ada di Kabupaten Bandung…? Alasan para Kepala SD tidak menolak, karena ini instruksi dari UPT TK/SD dan non formal kecamatan masing – masing,” jelas IW.

Hal sama juga dikeluhkan oleh salah seorang Kepala SD yang enggan identitasnya disebutkan. Menurutnya,” Saya pun merasa riskan dan takut menjadi temuan BPK, karena Fingerprint merk ini memang harga tokonya sekitar Rp 600 ribuan. Sedangkan ini, harganya 2,5 juta, kwitansinya juga ada sama segitu, jadi sangat dilema bagi seorang kepala sekolah, dibeli jadi boomerang tidak dibeli pun sama,” katanya.

” Ini harus dan diinstruksikan oleh UPT. Bingung saya juga jadinya. Koran saja yang harga 10 ribu jadi temuan BPK, apa lagi ini yang harganya jutaan,” keluhnya.
(Asep Setiawan)