Gila, Masuk Polisi Harus Bayar Setengah Miliar, Ini Sindikatnya yang Berhasil Ditangkap

BangkaPos 20 Mei. 2017 14:10

IMG_20170521_000616Ilustrasi

SURABAYA – Subbid Paminal Bidpropam Polda Jawa Timur membongkar sindikat makelar perekrutan calon Polisi dari jalur bintara dan taruna pada 2017.

Pengungkapan melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan petugas itu berlangsung, 27 April lalu.

Satu oknum Polisi yang ditangkap itu berpangkat brigadir berinisial MJ, dinas pada jajaran Polres Tulungagung, Jawa Timur.

Ia dianggap mensponsori dalam perekrutan anggota Polisi atas nama REP, pendaftar dari Nganjuk, Jawa Timur.

Ketika OTT berlangsung, petugas Subbid Paminal Bidpropam Polda Jawa Timurmengamankan uang tunai Rp 380.000.000; buku tabungan BRI dan kartu ATM BRI atas nama MJ, buku tabungan BRI dan ATM BRI atas nama GG, ponsel milik brigadir MO dan BlackBerry dan ponsel lain milik brigadir MJ.

Kabar yang berkembang dalam sindikat ini, MJ dan krunya membanderol harga Rp 525 juta.

Namun uang yang diserahkan keluarga korban REP ke brigadir MJ masih sekitar Rp 380 juta.

Sisanya masih menunggu proses perekrutan selesai.

Untuk ‘menebus’ harga masuk Polisi di jalur bintara, keluarga korban sampai menjual sawah.

Informasi diperoleh di lapangan, pihak keluarga REP ingin menjadikan anaknya sebagai polisi.

Lantas keluarga korban ngomong ke GG yang tak lain adalah, paman korban, untuk menitipkan ke panitia seleksi.

GG akhirnya minta informasi ke brigadir MJ (kakak iparnya) untuk mencarikan informasi terkait penerimaan seleksi polisi.

Atas permintaan itu, brigadir MJ menghubungi teman satu angkatannya, brigadir MO yang dinas di Surabaya.

Tak lama kemudian, MO mempertemukan MJ dengan seorang perempuan berinisial IL asal Waru, Sidoarjo (swasta).

IL mengaku bisa membantu memasukkan menjadi anggota Polri dan disepakati Rp 525 juta.

Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Frans Barung Mangera membenarkan adanya OTT.

“Itu sudah saya cek ke Kabid Propam dan memang itu benar.

Kapolda menegaskan, siapapun yang melakukan akan mendapat punishment. Bisa dipindah ke luar Jatim,” ujar Frans Barung.
Sumber : BANGKAPOS.COM