Kecewa Atas Perilakunya, Karyawan Segel Ruang Kerja Plt Dirut PDAM Karawang

Karawang – jatantaranews.com

Setelah reaksi dari berbagai macam element masyarakat Karawang, soal adanya kabar dugaan pemukulan anggota security yang bertugas di lingkungan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tarum Karawang yang diduga mendapat bogem mentah dari Plt Direktur Utama (Plt Dirut) PDAM Tirta Tarum Karawang, kali ini reaksi dan statement datang dari karyawan PDAM Tirta Tarum Karawang.

Arbain Nur Somad, Kepala Sub Urusan Hubungan Pelanggan (Kasubur Hublang) PDAM Cabang Rengasdengklok. Dia mengatakan, terkait sikap Plt Dirut, sesungguhnya ketidaknyamanan karyawan sudah dari dulu. Hanya saja temen-temen kita belum berani mengemukakan pendapat dan protesnya terhadap Plt Dirut, karena seperti yang kami rasakan. Plt Dirut itu sangat lah otoriter dan tidak mau menerima aspirasi temen-temen karyawan di bawah, tukasnya.

Apa lagi pasca adanya kabar dugaan pemukulan. Hampir seluruhnya karyawan PDAM Tirta Tarum Karawang geram! Klimaksnya, kami mendatangi Sekretariat Dewan Pengawas (Dewas) dan berlanjut ikut aksi dengan unsur element masyarakat yang peduli, dan berlanjut pada penandatanganan ‘Surat Mosi Tidak Percaya’ yang ditandatangani oleh ratusan karyawan. Tidak hanya itu, temen-temen karyawan pun melakukan penyegelan ruang kerja dan tempat parkir Plt Dirut, imbuh Arbain.

Semua ini merupakan klimaks dan akumulasi kekecewaan kami sebagai karyawan. Selain gayanya yang otoriter sehingga menyebabkan ketidaksukaan karyawan, terkait hak-hak kami pun sebagai karyawan, kadang telat kami terima. Contohnya, sisa uang Jasa Produksi (Jasprod), yang sampai saat ini hak kami itu belum diberikan, sementara kami sebagai karyawan, uang yang tidak seberapa itu sangat lah berarti bagi kami dan sangat kami nantikan.

Intinya, gerakan kami secara kompak ini, merupakan puncak kekecewaan kami sebagai karyawan, terhadap pimpinan perusahaan. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang selama ini peduli terhadap lembaga kami.

Adanya aksi unjuk rasa dari berbagai macam element masyarakat, merupakan kepedulian mereka terhadap lembaga dan kami sebagai karyawan.

Ketika disinggung soal adanya yang menunggangi dan membiayai aksi tersebut, Arbain menegaskan, tidak ada sama sekali yang namanya pembiayaan gerakan aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh beberapa element masyarakat beberapa hari kemarin. Yang ada kami karyawan dan staff PDAM yang ikut aksi diberikan air minum dan kopi.

Hal serupa diungkapkan Lembaga Swadaya Masyarakat Brigade Utama Anak Singaperbangsa (LSM BUAS) Karawang yang mengecam upaya pembohongan publik yang dilakukan oleh Koswara, anggota Satuan Pengamanan (Satpam) yang bekerja di lingkungan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tarum Karawang.

IMG_20171016_001029 IMG_20171016_001828

Sebelumnya dikabarkan, adanya dugaan pemukulan terhadap Koswara oleh Plt Direktur Utama (Plt Dirut) PDAM Tirta Tarum Karawang. Namun, beberapa hari setelah kabar tersebut ramai jadi pembahasan di Sosial Media dan menjadi trending topik hampir di seluruh media, tiba-tiba Koswara membantah dengan berstatement di beberapa media lokal Karawang.

Menyikap hal tersebut, Deden Sopian, Panglima LSM BUAS, mengatakan, ada ketidakberesan dari sikap Koswara. Pertama, ketika Dewan Pengawas (Dewas) PDAM Tirta Tarum Karawang berupaya mengkonfirmasi ke Koswara, bahkan sampai Dewas mendatangi ke kontrakan Koswara, tapi dia tidak mau menemui Dewas. Tapi Koswara malah buka suara melalui statement bantahannya di beberapa media lokal Karawang, padahal, Dewas itu lembaga berwenang, yang berfungsi melakukan pengawasan dan pembinaan, sebagai mata dan telinganya owner.

Lalu yang kedua, beredarnya foto SMS Koswara sore hari ini di Facebook, sehingga menjadi viral memenuhi beranda Facebook Karawang. Dalam hal ini, jelas ada sikap inkonsisten dari Koswara. Satu sisi kepada publik melalui media, dia melakukan bantahan, sementara ketika komunikasi dua arah, yang diduga SMS itu dengan rekan kerja atau karyawan PDAM Tirtatarum. Koswara mengakui sedang menunggu pertanggungjawaban Plt Dirut, bahkan dia mengakui baru diberi separuh biaya.

Jadi, ini sangat bertentangan dengan statement bantahannya di media massa beberapa hari yang lalu. Jelas-jelas ini ada upaya melakukan pembohongan publik, ada apa dengan Koswara ?. Kalau Koswara tidak menjelaskannya, permasalahannya bisa menjadi blunder bagi Koswara sendiri.

Lebih baik Koswara terbuka saja kepada kami, kalau pun ada intimidasi. Sampaikan kepada kami, siapa yang mengintimidasinya ? LSM BUAS siap 24 jam untuk mendampingi Koswara.

Tapi jika Koswara tidak mengklarifikasinya, resiko hukum atas perbuatan Koswara yang melakukan upaya pembohongan publik sudah menanti, apa lagi bantahan tersebut dalam bentuk produk media yang berbadan hukum. (Ndri / Goes JN)