Luar Biasa! Genangan Banjir Batas Jabar-Jateng KALIPUCANG, Layaknya Destinasi Wisata Musiman

IMG_20180223_114104

Kalipucang – Jayantara News

IMG_20180202_185549

Hujan deras yang mengguyur wilayah Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, bukan saja menggenangi pesawahan, namun imbasnya juga ke jalan raya wilayah perbatasan Jabar – Jateng.

Luapan Sungai Citanduy misalnya. Genangan banjir yang meratakan hektaran pesawahan milik warga sekitaran Padaherang, Ciganjeng dan Kalipucang, layaknya sudah menjadi makanan cemilan setiap musim hujan tiba. Karena kapasitas luapan air yang begitu besar, akibatnya jalan-jalan desa termasuk jalan utama pun kena dampaknya. Hal ini pun dialami warga sekitaran batas Jabar – Jateng wilayah Kalipucang.

Banjir yang melanda daerah Kalipucang dan sekitarnya, khususnya Jalan Pancimas (Pangandaran, Cilacap, Banyumas) arah Jawa Tengah, bisa mencapai ketinggian 80 cm.

Kondisi jalan yang tergenangi banjir, tentu saja menghambat pengguna jalan dan aktivitas perekonomian warga sekitar.

Yono, salah seorang warga Kalipucang yang kebetulan rumah dan tokonya terkena dampak banjir, ditemui Jayantara News, Jum’at (23/2), mengungkapkan,” banjir seperti ini sudah menjadi tradisi tiap tahun Pak. Setiap banjir berlangsung 3-4 hari. Saya sebagai warga juga bingung Pak!. Mestinya pihak BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy) dan pihak-pihak terkait mencari solusi,” keluhnya.

Apakah keadaan seperti saat sekarang ini akan dijadikan budaya setiap tahunnya, hingga sampai generasi ke tujuh pun akan merasakan banjir musiman yang tak berkesudahan ?, imbuh Yono.

Menyikapi kondisi yang tiada berkesudahan, tentunya patut dijadikan PR bagi Pemerintah Daerah setempat, khususnya Pemerintah Kabupaten Pangandaran. Meski serasa tak mungkin untuk menuntaskan persoalan banjir wilayah Tasik, Ciamis, Banjar dan Pangandaran, dan sekitarnya, namun tatkala ada koordinasi yang maksimal antara beberapa pihak terkait, bukan kah hal yang tidak mungkin bisa saja menjadi mungkin.

Dituntut keseriusan serta peran beberapa pihak para pemangku jabatan dan bukan hanya duduk manis seakan mengabaikan! (Herru Octobest JN)