Loading...

Awandi Siroj : Gaduh Zona Hijau By Pass Karawang, Kalau Toh “Kongkalikong” Tunjuk Hidung Saja!

IMG-20180427-WA0211

JAYANTARANEWS.COM, KARAWANG

FB_IMG_1515036941798

Adanya tuduhan soal sawah yang sedang diarug tanah merah, yang berlokasi di Jalan Lingkar By Pass Karawang, dianggap lokasi tersebut merupakan Zona Hijau yang dilindungi oleh Peraturan Daerah (Perda), tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (Perda RTRW) dan Peraturan Daerah tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Kegaduhan adanya Zona Hijau yang dibangun untuk pergudangan di jalur Lingkar By Pass Karawang terus bergulir, opini yang berkembang, bahwa lokasi tersebut merupakan lahan teknis pertanian yang tidak dapat dialih fungsikan.

Awandi Siroj, Ketua Markas Cabang Laskar Merah Putih (Marcab LMP) mengatakan, itu bukan lahan teknis pertanian, atau yang biasa disebut Zona Hijau. ” Saya sudah mengechecknya langsung ke Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Karawang. Semuanya clear, tidak ada masalah. Artinya, untuk areal sawah di sepanjang Jalan Lingkar By Pass Karawang tersebut, boleh dialih fungsikan, dari lahan pertanian menjadi non pertanian. Seharusnya jangan bermain opini dulu, lebih baik konfirmasi saja langsung ke Bappeda Karawang,” sebut Awandi.

Terkait tudingan adanya pengurusan perizinan oleh salah satu Sekretaris Dinas (Sekdis) yang “kongkalingkong” dengan salah seorang aktivis, untuk mengurus UKL/UPL sampai Izin Mendirikan Banguna (IMB), sebaiknya ditanyakan saja kepada Dinas terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) dan Dinas Penanaman Modal Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Karawang. Benar atau tidak yang datang untuk mengurus perizinan tersebut, sebagai mana yang dituduhkan ? Sebenarnya kan mudah, tinggal check saja. Atas nama siapa register permohonan perizinan tersebut, atau tinggal ditanyakan langsung kepada petugas dan Pejabat yang melayani perizinannya. Benar tidak yang datang memohon merupakan orang – orang yang dituduhkan ? Sehingga tidak menimbulkan asumsi lain – lain, katanya.

Lagi pula, issue ini masih sangat sumir. Pasalnya, sama sekali tidak mengarah pada identitas seseorang. Jangankan tunjuk hidung langsung, inisialnya saja tidak disebutkan. Sehingga menyebabkan publik meraba – raba dan berasumsi saja. Kalau pun memang terbukti ada jejaknya, kenapa tidak langsung tunjuk hidung saja ? Sehingga tidak membuat bingung.

Pemberitaan pertama masih mending ada narasumbernya, walau pun hanya praduga. Nah pemberitaan yang kedua ini, tanpa adanya narasumber, hanya sebatas opini belaka. ” Kalau memang ada yang dicurigai, kenapa tidak langsung melakukan konfirmasi kepada yang bersangkutan? Etikanya kan begitu,” tegas Awandi. (Ndri JN)