Komarudin: Untuk Menjaga Keberadaan Hutan, Wisata Bisa Jadi Win Win Solution

IMG-20180902-WA0117

JAYANTARANEWS.COM, Lembang

IMG_20180628_215930

Tekanan terhadap hutan di Pulau Jawa sangat tinggi. Beda dengan di luar Jawa, yang lahan hutannya masih luas dan tekanan terhadap hutan relatif tidak seperti di Pulau Jawa. Di Jawa sampai kepinggir hutan ada rumah. Demikian dikatakan Administratur Perhutani KPH Bandung Utara Komarudin, pada acara Jumpa Pers awal pekan ini di Grafika Cikole Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Menurut Komarudin, guna menjaga  keberadaan hutan dari kebutuhan masyarakat, tekanan kebutuhan lahan dilakukan melalui pola pengelolaan hutan berbasis ekonomi, ekologi dan sosial. ” Dengan pendekatan tersebut, ada pemberdayaan masyarakat. Masyarakat bisa mengelola hutan dan ada pendapatan,” jelasnya.

Perhutani KPH Bandung Utara mengelola hutan seluas 20.400 hektar. Didalamnya terdapat kegiatan masyarakat, seperti agroforestry, pemanfaatan air,  penananam tanaman untuk ternak serta pengelolaan wisata.

Dijelaskan Komarudin, khusus untuk pengelolaan wisata, pihaknya menerapkan aturan secara ketat, baik yang dikelola Lembaga Masyarakat Desa Hutan maupun mitra swasta.

” Kegiatan wisata ada di blok pemanfaatan pengembangan wahana, dan sarana prasana tidak boleh lebih 10 persen. Dan kalau ada, bangunan itu tidak permanen dan didesain tidak menganggu resapan air,” tuturnya.

Kendati demikian, Komarudin tidak menampik, jika ada ekses yang ditumbulkan dari kegiatan wisata.

” Sekecil apapun dampak itu, pasti ada dan ini yang kita minimalisir terus,” tandasnya.

Upaya meminimalisir dampak, diantaranya dilakukan melalui penempatan petugas Perhutani saat pembuatan wahana dan evaluasi secara rutin saat pengelolaan wisata sudah berjalan.

Lebih jauh, pengelola wisata juga diwajibkan untuk membuat program penghijauan yang memperkuat fungsi ekologi hutan.

Komarudin mencontohkan penerapan aturan bagi pengelola wisata yang beroperasional di kasawan Hutan Cikole, Lembang.

” Disini ada Grafika dan Orchid Forest dan wisata lainnya. Kita jamin ketentuannya dipenuhi. Bahkan ada klausul tidak boleh ada pohon yang ditebang,” ungkapnya.

Sejalan dengan Komarudin, Rudi, pengelola wisata Orchid Forest mengatakan, untuk pengelolaan wisata Orchid, pihaknya sudah mengikuti ketentuan.

” Kita mengikuti semua ketentuan Pak,  tidak ada satup pohonpun yang ditebang, wahana yang dibuat juga sangat memperhatikan ketentuan,” katanya.

Dilain sisi, keberadaan wisata mendatangkan manfaat berupa penyerapan tenaga kerja yang berasal dari warga sekitar. ” Ada ratusan tenaga kerja yang terserap. Benefitnya besar bagi masyarakat sekitar hutan. Wisata ini sebenarnya bisa jadi win – win solution,” pungkasnya. (fsas)