Sudah Tepatkah Relokasi Rumah Sakit Di Balai Benih

IMG-20181004-WA0159

Ket Foto: Muhazi Ramadhan (Front Nahdiyin)

JAYANTARANEWS.COM, NTB

IMG_20180628_215930

Baca berita sebelumnya: Sebagian Fraksi DPRD Sumbawa TOLAK Relokasi Pembangunan RSUD Di Balai Benih – http://jayantaranews.com/2018/09/sebagian-fraksi-dprd-sumbawa-tolak-relokasi-pembangunan-rsud-di-balai-benih/

Rencana relokasi Rumah Sakit Di BBU Sering, menurut kami dari sekian masyarakat setempat yang akan terkena dampak dari rencana pembangunan RSUD itu, ada 3 (tiga) persoalan mendasar yang harus dipertimbangkan, diantaranya;

1. Dampak Lingkungan, yakni:
– Banjir, dimana sama – sama kita ketahui, bahwa daerah Sering dan daerah persawahan di seputaran Genang Genis, setiap tahunnya sudah menjadi langganan banjir, baik kiriman dari air Kali Kerekeh melalui saluran irigasi, air limpahan dari gunung dan air kiriman melalui sungai yang ada di sekitaran Sering.

Air tersebut menggenangi seluruh area sawah Balai Benih dan sekitarnya, termasuk rumah penduduk yang ada sekitar bantaran sawah BBU, dan sepanjang jalan depan Balai Benih tetap tergenang dengan ketinggian paha orang dewasa, termasuk dalam kawasan RTH Genang Genis. Belum lagi yang setiap tahunnya memakan korban rumah penduduk yang ada di sepanjang bantaran Sungai Sering Dusun Ai Mata.

– Pencemaran Lingkungan, berdasarkan dokumen FS ketinggian Tanah Urug sekitar 4 (empat) meter di dalam luas lahan 8 (delapan) hektar lokasi BBU tersebut. Ini sangat berhubungan sekali dengan kondisi dan struktur tanah di wilayah yang akan berdampak langsung dengan lingkungan masyarakat sekitar, yakni ke dalam sumur penduduk di bantaran Balai Benih berkisar di kedalaman 2-4 meter, dan sangat bergantung kepada air sawah di sekitarnya. Ditambah lagi dengan ketinggian Tanah Urug dan tembok keliling nantinya, maka potensi lebih besar adalah tergenangnya rumah penduduk di sekitar rencana RSUD tersebut. Dan air sumur akan berpengaruh terhadap rembesan limbah.

2. Fungsi Balai Benih

Fungsi Balai Benih Unggul (BBU), secara fungsi BBU sangat berperan aktif terhadap keberlangsungan petani yang ada di Kabupaten Sumbawa, yakni Balai Benih adalah balai pembenihan untuk pembenihan unggul yang nantinya akan disalurkan ke Balai Benih yang ada di kecamatan dan selanjutnya akan diteruskan ke petani.

Selain itu juga, Balai Benih adalah sebagai laboratorium untuk menguji bibit – bibit sebelum dilakukan penanaman. Balai Benih wajib ada di setiap kabupaten guna menopang untuk meningkatkan angka dan kualitas produksi petani khususnya padi di Kabupaten Sumbawa.

Balai Benih Unggul di Sering Desa Kerato ini sudah memenuhi standar secara tehnis tentang BBU, yakni dilihat dari saluran dan debit air yang rutin, artinya sumber airnya jelas tetap terairi dan keadaan tanahnya yang sangat cocok untuk area pembenihan. Jika Balai Benih dipindahkan, maka haruslah sama kriterianya dengan melihat syarat – syarat BBU.

Jika BBU direlokasi akibat dari pembangunan rumah sakit, maka berdasarkan peraturan yang ada, wajib diganti dengan 2 (dua) kali lipat luas lahan dari yang sekarang 8 (delapan) hektar dan wajib memperhatikan syarat – syarat sebagai Balai Benih, dan untuk penggantinya tetap akan menggunakan anggaran APBD.

3. Rendahnya badan jalan dan pembenahan saluran irigasi,

– Seiring dengan ketinggian Tanah Urug RSUD, maka akan berdampak terhadap rendahnya badan jalan raya sepanjang depan Balai Benih tersebut, maka harus ada peningkatan badan jalan baru dan pelebaran jalan tersebut, dan sumber anggarannya menggunakan anggaran Provinsi, karena status jalan tersebut adalah Jalan Provinsi.

– Pembenahan saluran irigasi, baik irigasi untuk petani maupun selokan yang ada di sepanjang jalan tersebut, untuk anggaran pembenahannya bersumber dari anggaran Provinsi dan Kabupaten.

Kesimpulannya: Dari ketiga persoalan di atas, akan sangat berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat Sumbawa pada umumnya, selain dampak secara langsung terhadap masyarakat sekitar yang ada di wilayah sekitaran BBU, yakni hilangnya Balai Benih dan fungsi Balai Benih, karena belum tentu dalam waktu yang singkat akan dapat pengganti lokasinya dan akan berdampak secara langsung terhadap keberlangsungan produksi dan kualitas produksi petani padi di Kabupaten Sumbawa.

– Masyarakat sekitar tetap akan terkena dampak banjir tahunan, mengingat ketinggian Tanah Urug dan luas wilayah rencana RSUD tersebut serta dampak lingkungan lain yang akan dirasa karena struktur tanah wilayah tersebut adalah lahan basah (produktif).

– Pemborosan anggaran, menurut sumber anggaran untuk rencana Pembangunan RSUD di Balai Benih tersebut memakan anggaran Rp 250.000.000.000 (milyar), dengan pembangunan dan penganggaran bertahap. Untuk tahap pertama, yakni Rp 84,9 milyar yang bersumber dari APBN dan Rp 75.000.000.000 (milyar) dari APBD.

– Untuk pengganti lahan Balai Benih dengan 2 (dua) kali lipat dari luas yang sekarang yang akan menggunakan anggaran APBD Sumbawa.

– Peningkatan badan jalan baru dan perluasan saluran irigasi serta selokan dengan menggunakan anggaran APBD Provinsi dan APBD Kabupaten.

“ Maka dengan demikian, kami menolak rencana pembangunan RSUD di Balai Benih dan kami setuju dengan relokasi RSUD ke tempat lain, dengan melihat berbagai aspek seperti yang telah kami uraikan tersebut”.

Landasan Hukum :

– Undang Undang No 32 Tahun 2009, tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, UU No 41 Tahun 2009 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan, Perda Sumbawa No 10 Tahun 2012 tentang rencana tataruang dan wilayah Kabupaten Sumbawa, UU No 1 Tahun 2011 tentang PLP2B dan PP No 1 Tahun 2011 tentang penetapan dan alih fungsi lahan pertanian, dll.

Sumbawa Besar, 4 Oktober 2018
Oleh : Muhazi Ramadhan