Loading...

Duit 2,9 Miliar PDAM Tirta Tarum Raib, Askun: Dimakan “TUYUL” Oknum Pejabat

IMG_20181228_015155

Praktisi Hukum Karawang, Asep Agustian, SH, MH.

JayantaraNews.com, Karawang

Masih soal kontroversi hilangnya anggaran pembayaran hutang bahan baku air PDAM Tirta Tarum Karawang kepada PJT II yang nilainya mencapai Rp 2,9 miliar, Praktisi Hukum Karawang Asep Agustian, SH, MH meyakini, jika hilangnya anggaran tersebut dimakan ‘sejumlah tuyul’ yang diyakininya masih merupakan oknum Pejabat Karawang sendiri.

Atas persoalan ini, pengacara yang lebih akrab disapa Askun ini berharap, agar Kejaksaan Negeri Karawang sudah bisa mulai melakukan penyelidikan tertanggal Januari 2019, guna mengembalikan 2,9 miliar yang diduga sudah ‘dimakan’ sejumlah oknum pejabat Karawang.

“ 2,9 miliar dibawa tuyul. Tuyulnya para oknum pejabat yang diduga melibatkan Legislatif dan Eksekutif. Ini kok bagi – bagi kue tapi gak kontrol. Udah tahu itu duit panas, malah hayuh dibagi – bagi. Ya tuyul pada dateng sendiri,” sindir Asep Agustian SH, MH, kepada awak media, Rabu (26/12/2018).

Siapapun kepemimpinan Dirut PDAM Tirta Tarum Karawang, Askun menegaskan, setiap tahun ke tahun manajemen PDAM Karawang selalu bermasalah, dimana setiap laporan akhir tahun, jajaran Dirteksi PDAM selalu mengaku mengalami kerugian.

“ Siapapun yang di PDAM itu, dulu zaman Yogie, sekarang zamannya Soleh (Dirut PDAM, red). Soleh baru aja duduk sudah kehilangan 2,9 miliar. Itu tuyulnya pada gede – gede banget kepalanya tuh. Katanya PDAM itu selalu rugi. Emang ruginya dimana? Yang rugi kan tetap para konsumen PDAM. Dulu zamannya Yogi, air PDAM kayak air bajigur (keruh, red). Sekarang sudah ada perbaikan, muncul soal 2,9 miliar, ada apa dengan itu semua,” tanya Askun.

Dalam persoalan ini, Askun juga mengaku sangat menyayangkan kepada jajaran Direksi PDAM maupun Dewan Pengawas yang ketika dimintai keterangan wartawan selalu ‘ngeles’.

Padahal, ditegaskan Askun, untuk mencari sebuah kebenaran atas hilangnya 2,9 miliar ini, maka semua unsur yang ada di PDAM Karawang harus bisa bersikap transparan kepada publik.

“ Lagi – lagi orang diminta keterangan sama wartawan malah marah – marah. Saya kan selalu bilang, kalau ada wartawan nanya, ya hadapi saja, jawab saja, kalau toh memang kita mau mencari kebenaran atas persoalan ini. Ini kan kayak masing – masing ngerasa paling bener. Padahal sedang cari pembenaran semua,” kata Askun.

“ 2,9 miliar, saya berharap cari sampai dengan tuntas siapa biang keroknya. Apakah ada di PDAM, DPRD atau di Pemkab Karawang. Biar semua tuyul itu pada nongtot (timbul, red) semua. Begitu sudah terlihat itu para tuyul, rasakan tuh akibatnya makan duit haram,” timpal Askun.

Terkait rencana Dewan Pengawas yang akan memanggil Direksi PDAM, Askun sendiri lebih menyarankan agar Dewan Pengawas PDAM juga membuat laporan resmi kepada Kejaksaan Negeri Karawang.

“ Akh! lagi – lagi Dewas mau manggil Direksi. Mau manggil kemana, ke rumah makan. Mau manggil apa’an sih?. Kalau memang toh Dewas mau menegakkan hukum, ya sudah laporkan saja kepada penegak hukum atas persoalan ini. Karena sudah jelas 2,9 miliar ini hilang gitu aja,” sindir Askun.

Adapun terkait Surat Dirut PDAM Tirta Tarum Karawang, M Soleh kepada Bupati Karawang, dr Hj Cellica Nurrachadiana yang juga berkapasitas sebagai Owner PDAM, Askun berpendapat, jika langkah administratif yang dilakukan M Soleh merupakan langkah yang tepat secara kelembagaan PDAM.

“ Dirut itu pinter, gak mau terjebak. Sengaja dia bikin surat itu. Ketika suatu saat Dirut dipanggil penyidik, dia sudah membuat surat resmi yang bisa dipertanggungjawabkan atas jabatannya. Dirut tuh sedang main watak. Dia tuh hebat dan pintar,” kata Askun.

“ Terbaca atas pemainan ini, lah bupati marah – marah. Katanya bupati marah – marah kepada Dirut dengan adanya surat itu. Lagian kenapa bupati harus marah – marah. Lagian ini kan antar lembaga. Secara administrasinya, Dirut itu sudah benar melaporkan hal ini dengan surat resmi. Tapi sayangnya suratnya bocor ke luar. Dan akibat kebocoran ini akhirnya malu,” masih kata Askun.

Tetapi secara administratif, tegas Askun, langkah yang dilakukan Dirut M Soleh sudah benar. Karena menurutnya, inilah yang dinamakan komunikasi atau koordinasi antar lembaga antara Dirut M Soleh dengan Owner PDAM (bupati, red). “ Ini mah owner-nya aja ngaku seolah gak tahu, padahal tahu itu,” timpal Askun.

Menurut Askun, persoalan hilangnya duit 2,9 miliar ini seperti api dalam sekam. Jika persoalannya tidak pernah dijelaskan kepada publik, maka sampai kapanpun akan ‘membakar’ siapapun yang ada di dalamnya. “Gak usah tutup – tutupan zaman sekarang mah. Karena kapanpun pasti akan ketahuan kok,” katanya.

“ Sama kejaksaan juga ini bisa selesai kok. Saya berharap di Januari 2019, Kejaksaan Karawang sudah bisa mulai melakukan penyelidikan. Kalau beberapa pejabat Karawang sudah diperiksa penyidik kejaksaan terkait persoalan 2,9 miliar ini, rasakan itu semua. Rasakan tuh akibat makan duit haram,” tandas Askun. (red)