Loading...

Miris! Bangunan SDN Puncak Dago Jampangtengah KUMUH, Pemerintah Tutup Mata!

IMG-20181214-WA0155

JayantaraNews.com, Jampangtengah

Engkat (46), Komite SD Negeri Puncak Dago, saat dikonfirmasi menuturkan, bahwa bangunan sekolah tersebut berdiri di atas tanah wakaf seluas 3000 meter.
Sejak diwakafkan, tanah tersebut peruntukan pendidikan sekira tahun 2000 lalu, yang kebetulan langsung mendapat bantuan untuk Ruang Kelas Baru (RKB) sebanyak 4 lokal, dengan menghabiskan anggaran kurang lebih 400 jutaan dari APBNP.

IMG-20181214-WA0156

Lantaran dunia pendidikan sangat dibutuhkan, muridpun saat itu mencapai 200 an siswa, dan hampir tidak tertampung.

Kemudian, pada tahun 2007 lalu, ada bantuan penambahan untuk ruang kelas sebanyak dua lokal, ditambah dengan ruang perpustakaan dengan anggaran kurang lebih Rp 275.000.000 dari APBD.

IMG-20181214-WA0158

Namun beberapa tahun ke belakang, murid semakin berkurang, bangunan sekolah pun makin berantakan, malahan ada ruang kelas yang jarang digunakan. Hal ini lantaran bangunan SD tersebut sudah lapuk termakan usia. ” Apalagi saat musim penghujan, semua bocor dan miris ambruk, demikian Engkat, selaku komite sekolah sampaikan kepada JayantaraNews.com, Jum’at (14/12).

Hendra, Kepala Sekolah SDN Puncak wilayah Koryandik Jampangtengah Kabupaten Sukabumi, membenarkan akan mirisnya bangunan sekolah dimaksud. ” Jujur, kami selalu menegaskan, jika musim penghujan apalagi disertai angin, lebih baik anak dipulangkan. Saking khawatir terjadi hal – hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Kami akui, kenapa murid berkurang, mungkin para wali murid melihat kondisi sekolah yang mengkhawatirkan. Boleh dikatakan kurang nyaman, tambahnya.

Harapan kami, pihak pemerintah segera turun melihat kondisi bangunan sekolah kami yang mungkin tidak layak pakai, imbuhnya.

Semwntara itu, penuturan warga sekitar bangunan SDN Puncak Dago, Umi Unin (50) mengungkapkan, betapa mirisnya bangunan untuk sarana pendidikan yang kini digembar gemborkan. Katanya Kabupaten Sukabumi mengutamakan pelayanan pendidikan dan kesehatan, namun kami perhatikan, sudah hampir 12 tahun sekolah itu tidak diperhatikan pemerintah. Dimana akan peduli pendidikannya, sementara anak didik sangat terlantar. ” Ampun ningali sakola meuni jiga eweuh nu ngurus, kamana atuh pamarentah teh na pilih kasih teuing, (Ampun lihat sekolah, kaya ngga ada yang ngurus, kemana sih pemerintah, terlalu pilih kasih,” keluh Ema Unin. (Pid)