Dansektor 21 Kol Inf Yusep Sudrajat: Kendalikan Sampah Demi Program Citarum Harum

IMG-20190329-WA0025

JayantaraNews.com, Bandung

Dansektor 21 Kol Inf Yusep Sudrajat dengan pembawaannya yang supel dan tegas, pada Rabu, 28 Maret 2019, mengunjungi simpul-simpul masyarakat yang berkontribusi langsung maupun tidak langsung terhadap keberadaan Sungai Citarum.

Pilihan hari itu, rombongannya menyambangi Ponpes Al-Qur’an Al Falah 2 Nagreg Kabupaten Bandung.

Di hadapan tuan rumah, Pimpinan Ponpes Al-Quran Al Falah 2 Nagreg Kabupaten Bandung KH Cecep Abdullah, yang disertai beberapa ustadz dan ratusan santri, Yusep mendadarkan secara runtun tentang misi dan visi revitalisasi Sungai Citarum.

Panduannya, mengacu ke Perpres No 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum:
“ Benar seperti kata Pak Kyai Cecep tadi, kini ada sebagian Sungai Citarum sudah bisa dipakai untuk berenang oleh warga, terutama anak-anak. Impian saya, sudah ada yang tercapai, papar Yusep yang diapresiasi secara spontan oleh ratusan santri dengan bertepuk tangan riuh.

IMG-20190329-WA0026

Seakan menyela dari riuhan tepuk tangan itu, kembali Yusep mendadarkan, bahwa upayanya itu terjadi berkat kerja keras semua pihak. Menurutnya, dalam 30 tahun terakhir Sungai Citarum menjadi septic tank bagi jutaan warga di bantarannya.

“ Target mulai hulu hingga hilir sepanjang 269 Km bantarannya harus ditanami sedikitnya 26 juta pohon selama 7 tahun. Sekarang, sejak Maret 2018 baru 1 juta pohon tertanam. Gunung Wayang di hulu sekitar 1.400 Ha harus dihijaukan, juga 460 ribu Ha sawah di Bekasi sebagai lumbung padi, harus diselamatkan. Belum lagi bendungan (waduk) Cirata, Saguling, Jatiluhur adalah pembangkit listrik bagi pulau Jawa dan Bali, juga fungsi lain seperti sebagai tempat keramba jaring apung (ikan), harus dibenahi,” urai Yusep yang kini paham tentang karakter Sungai Citarum.

Terkotor Sedunia

Yusep, tiba pada penjelasan Sungai Citarum sebagai salah satu sungai terkotor sedunia, tatkala video dan pemberitaannya menjadi viral pada era 2017-an. Indikasinya pada tahun yang sama, BPJS se Indonesia melaporkan sekitar Rp 1,9 T adalah pengeluaran terbesar bagi warga di sekitar Sungai Citarum. Penyebabnya, di antaramya limbah pabrik sebanyak 3000-an di bantaran, tanpa IPAL yang sempurna.

IMG-20190329-WA0007

“ Sejak Maret (2017) sekitar 60-70 an, telah dicor lubang pembuangan limbahnya. Sekarang terus bertahap IPAL ini dibenahi, biasanya kami pasang ikan koi sebagai indikator layak tidaknya digelontorkan ke Citarum. Masalah lainnya, soal sampah, tinja, dan sejumlah rumah sakit, dan rumah tangga, perlu kerjasama menanggulanginya,” jelas Yusep yang di Ponpes Al Falah Nagreg akan memasang incinerator sampah ramah lingkungan, setelah sebelumnya menyisipkan cara-cara praktis bagi warga untuk menanggulangi berita hoax yang meresahkan kita.

“ Semoga saja upaya ini akan menjadi pilot project, sedikitnya di beberapa titik area sektor 21,” papar H Ade sebagai partisipan pemulihan Sungai Citarum yang ikut meninjau Ponpes ini.

Tangani Sampah

Alhasil, kunjungan Yusep ke Ponpes, yang menurut Cecep Abdullah telah dirintis oleh ayahnya KH Qori Ahmad Sahid pada tahun 1970. “ Pesantren ini punya 2.500-an santri berasal dari daerah Nagreg dan Cicalengka. Juga ada formal sejak TK, SD, Tsanawiyah (SMP), Aliyah (SMA), SMK, hingga perguruan tinggi. Kali ini siswa SMK-nya sedang menghadapi UNBK,” jelas Cecep Abdullah.

Intinya, dari kunjungan ini untuk jangka pendek yang akan dilengkapi dengan incinerator pengolah sampah yang ramah lingkungan: ” Nantinya, sampah dari kompleks Ponpes ini secepatnya dapat ditangani dengan baik dan terpadu,” jelas Yusef sambil menambahkan pada siang harinya akan meninjau penerapan incinerator di beberapa titik di bantaran Sungai Citarum. (Harri Safiari)