Loading...

Soal Aduan Pencemaran Lingkungan, DLH Sumedang Dinilai Kurang Sigap

IMG-20190704-WA0136

JayantaraNews.com, Sumedang

IMG-20190704-WA0135

Terkait pencemaran air limbah dari beberapa perusahaan yang berada di wilayah Kecamatan Jatinangor dan Cimanggung Kabupaten Sumedang, pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dinilai kurang sigap dan tanggap. Pasalnya, pencemaran air limbah yang menjadi keluhan warga sekitar dampak air limbah dari perusahaan di wilayah tersebut seperti ada pembiaran.

Asep, warga Kp Bojong Bolang RT 02 RW 04 mengatakan,” Kami sudah muak dengan adanya bau air limbah yang dibuang dari pabrik-pabrik tekstil setiap hari, selain bau air limbah, dampaknya mematikan terhadap tanaman padi dan ternak ikan, sehingga kami tidak bisa apa-apa.”

IMG-20190704-WA0134

” Saya warga asli di sini di sekitar pabrik yang langsung terkena dampak bau limbah dari pabrik Kewalram, Karina, Kawasan Sunson, setiap hari,” akunya.

Lanjut, mana perhatian pemerintah dan instansi terkait, terutama BPDLH memperhatikan terhadap pencemaran yang ekosistem lingkungan, karena kalau peduli kepada lingkungan di sekitar, pasti pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH)  menindak tegas kepada perusahaan yang nakal yang membuang limbah tanpa diproses dengan baik, ungkap Asep dengan nada kesal.

Kami tidak butuh hanya dengan dilakukan pengecekan saja apabila ada laporan dari warga, tetapi harus ditindak lanjut dengan ketegasan sesuai aturan yang berlaku, biar pihak perusahaan mengikuti aturan yang ditentukan, jelasnya.

Warga lain, Syarif menuturkan, bahkan warga masyarakat Kampung Bojong Bolang sudah jenuh melaporkan ke pihak pengurus (RT/RW), bahkan sampai ke pihak Kecamatan Jatinangor dan termasuk ke Petugas Satgas Citarum Harum, hingga dilaporkan keluhan kami oleh Satgas Citarum Harum. Akan tetapi, pengaruhnya masih tidak maksimal, karena mungkin tidak ada tindak lanjut yang membuat perusahaan dapat memparhatikan dampak bahaya terhadap lingkungan di sekitar dengan laporan warga, tetapi tidak ada hasil yang signifikan sesuai dengan keinginan warga. ” Saya kaget, ada apa dengan para petugas pemerintah..?,”
tanya Syarif yang sedang bertanam ubi di sekitar belakang kawasan pabrik PT Sunson.

Apa yang menjadi keresahan warga dari dampak air limbah, pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumedang dan provinsi seakan tutup mata, imbuhnya.

” Air limbah sering keluar dari pabrik pencelupan dengan warna-warni. Padahal saluran Bojong Bolang dari dulu aliran airnya dari wilayah Cimanggung, air dari pegunungan, dan airnya bersih dan bening, sehingga suka dipakai pengairan ke pesawahan, dan tidak menjadi kendala. Bahkan sama warga suka dipakai nyuci ketika habis dari sawah. Tetapi sekarang, setelah banyaknya pabrik tekstil dan pencelupan, air sudah sangat tercemar oleh B3, jangankan pakai nyuci, pakai sawah juga padinya pada ngga bener,” keluh warga.

Menindaklanjuti hal tersebut, tim awak media melakukan klarifikasi ke pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumedang, Senin (01/7).

Agus Haryanto, Kasi Pengaduan LH mengatakan,” Masalah pencemaran lingkungan dari dampak air limbah pabrik, kami telah menerima aduan dari warga masyarakat Jatinangor, terkait pencemaran air limbah dari beberapa pabrik yang ada di wilayah Jatinangor dan Cimanggung, salah satunya yaitu dari perusahaan PT Kewalram di Jalan Raya Bandung – Garut Desa Suka Dana Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang,” katanya.

IMG-20190704-WA0133

Menurutnya, untuk malasalah PT Kewalram, itu sudah dikenakan sanksi administrasi dari Kementerian Lingkungan Hidup, tetapi sampai saat ini belum ada tembusan ke kami. Kami juga belum tahu sejauh mana tindak lanjut dari pihak Kementerian LH, dan pihak PT Kewalram pun belum memberikan tembusan dari pihak Kementerian LH. Oleh karena itu, kami barusan kedatangan dari PT Kewalram untuk melaporkan sanksi dari Kementerian LH, tetapi kami arahkan harus proses dulu secara hukum, jelas Agus.

Masalah pencemaran dari perusahaan di kawasan PT Sunson, kami belum melakukan pengecekan, karena kami akan melakukan pengecekan atas dasar dari pengaduan masyarakat, tetapi masalah itu sudah ada beberapa hari yang lalu, ada yang datang melaporkan dari masyarakat terkait limbah dari perusahaan di kawasan, ujarnya.

Agus mengaku, kami pernah melakukan pengecekan ke pihak pabrik di kawasan Sunson, yakni salah satunya ke pabrik PT Koriester, namun pada waktu itu bukan atas dasar pengaduan masyarakat, tapi kami melakukan pengecekan dengan tim labotorium, dan pada waktu itu PT Koriester untuk Instalasi Pengelolaan Limbahnya (IPAL) menumpang ke PT CSP, paparnya.

Dan untuk sekarang ini kami juga belum menerima laporan dari pihak Satgas Citarum Harum yang ada di wilayah Sumedang.

Oleh karena itu, kami akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk melakukan pengecekan secepatnya ke pihak perusahaan tersebut. Namun kami harus berkoordinasi dengan pihak labotorium untuk mengecek air limbah yang ada di perusahaan itu, karena kalau tidak kerjasama dengan pihak lab, mana bisa kita menilai itu air limbah yang berbahaya, imbuhnya.

Untuk melakukan pengawasan, kami LH Kabupaten Sumedang belum ada anggota untuk pengawasan, padahal untuk kepala seksi pengawasan sudah ada, tapi untuk petugas pengawasan kami belum ada, karena SDM dan personilnya belum ada, ungkapnya.

Oleh karena itu, kami akan berkoordinasi dengan pihak kementerian supaya ada tim pengawasan ke pabrik/perusahaan yang membuang air limbah yang berbahaya.

Karena untuk bagian pengawasan dari LH kami belum ada personil, dan SDM harus orang yang berpengalaman. Oleh karena itu, kami akan berkoordinasi dengan pihak pengawasan dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi,  pungkas Agus. (Tim)