Para Petani & Penggarap Gotong Royong Bendung Sungai Citarum

JayantaraNews.com, Kab Bandung

Kondisi musim kemarau selama kurang lebih empat bulan di tahun 2019, menimbulkan kekhawatiran para petani dan penggarap terhadap tanaman padi yang ditanamnya, sehingga para petani melakukan gotong royong untuk membendung Sungai Citarum di Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Kamis 8/8/2019.

Ketua Poktan Desa Sukamanah Rosadi Suntiara mengatakan,” Kami warga petani dan para penggarap sawah melaksanakan gotong royong dalam membendung Sungai Citarum untuk kebutuhan para petani di Desa Sukamanah, karena kondisi tanaman padi sudah sangat emergency, sehingga para petani dan penggarap sangat antusias sekali dalam melaksanakan gotong royong membendung Sungai Citarum, kata Rosadi saat diwawancara di lokasi.

Karena kebutuhan air untuk para petani dan penggarap di Desa Sukamanah dan Desa Tegal Sumedang, Kecamatan Rancaekek sangat darurat, selain itu beberapa desa di luar Sukamanah yang sangat memerlukan air saat ini sangat diperlukan demi menyelamatkan tanaman padinya, seperti Desa Tegal Sumedang, Desa Solokan Jeruk, Desa Bojong Emas, Desa Rancakasumba, Kecamatan Solokan Jeruk. Oleh karena itu, para petani dan penggarap yang ikut gotong royong dalam membendung Sungai Citarum sebagian dari desa di luar Kecamatan Rancaekek, ungkapnya.

Lalu hasil membendung, lanjut Rosadi, di Sungai Citarum airnya disalurkan ke Sungai Citarik, lalu ditarik oleh para petani masing-masing kelompok dengan memakai mesin pompa air, terangnya.

H Dede Rahim mantan Kepala Desa Sukamanah menuturkan,” Luas lahan pertanian yang memerlukan air karena sama kondisi darurat sehingga hampir 1000 ha. Di Desa Sukamanah saja sudah hampir -+ 400 ha, belum yang sebagiannya di desa lain, Desa Tegal Sumedang Kecamatan Rancaekek, Desa Solokan Jeruk, Desa Bojong Emas dan Rancakasumba, Kecamatan Solokan Jeruk,” tuturnya.

Untuk gotong royong ini tidak mengeluarkan biaya dari salah satu pihak manapun, ini murni aspirasi tenaga dan pikiran semua warga para petani dan penggarap sehingga mereka masing-masing membawa makanan dan minuman, bahkan untuk bahan tanggulan Sungai Citarum, mereka masing-masing membawa karung buat mengantongi tanah lumpur untuk menahan air, karena material yang dipakai untuk tanggul seadanya tanah lumpur yang ada di Sungai Citarum sehingga di masukin ke karung supaya kuat dan tidak terbawa air tanahnya, jelasnya.

Ia berharap kepada pemerintah dan instansi terkait, dalam pembagian sumbar air dari hulu Curug Cinulang Cicalengka dan hulu air dari Cikeruh dapat dibagikan dengan rata, sehingga para petani di musim sekarang ini sangat memerlukan air. Maka dari itu jangan di bagian hulu saja yang mendapat pembagian sumber air dari hulu arus rata ke hilirnya, harapnya.

Selain itu, mohon kepada para perusahaan yang mengambil sumber air dari hulu agar memberi kesempatan untuk para petani dalam pembagian air dari hulu sungai, bukan hanya dampak air limbahnya saja yang mengalir ke hilir, tetapi untuk saat ini kami para petani dan penggarap sangat membutuhkan air demi menyelamatkan tanamanya, imbuhnya.

Sebab untuk aliran air dari girang sekarang tersendat dengan banyaknya tanggul-tanggul di sungai, karena dalam normalisasi Sungai Cikijing, Cimande, dan Cikeruh masih dalam pekerjaan sehingga banyak tanggulan air di sungai-sungai yang masih di tutup, pungkas H Dede Rahim.

Jeje (59), salah satu petani warga Kp Sukamanah,” Alhamdulillah, dengan adanya H Dede Rahim yang selama ini beliau yang selalu menjadi pelopor dalam permasalahan kendala pertanian di Desa Sukamanah selalu paling depan untuk mencari solusi permasalahan tersebut,” katanya.

Dilanjutkan oleh Dani (57) warga Ranca Eunteung, kalau tidak ada Pak H Dede, siapa lagi yang akan peduli terhadap para petani di Desa Sukamanah Rancaekek ini. Oleh karena itu, kami sangat berterimakasih atas dorongan dan bantuannya selama ini beliau yang selalu memperjuangkan para petani di wilayah ini, walaupun sekarang beliau tidak menjabat Kepala Desa Sukamanah tapi sangat membantu sekali kepada para petani dan warganya, ucapnya.
(Jafar)