Loading...

Balon Rektor Unpad SIKAPI Soal Revisi UU KPK & 35% Suara Menristekdikti

JayantaraNews.com, Jabar  

Kehadiran duo presenter papan atas Effendy Gazali dari Universitas Indonesia (UI) dan Indy Rahmawati alumni Unpad, pada 17 September 2019 lalu, tampaknya sempat membuat gelagapan 9 bakal calon alias ‘Balon’ Rektor Unpad 2019 – 2024.

Ini terjadi saat digelar Sosialisasi, Paparan Bakal Calon Rektor Unpad Periode 2019-2024. Penanggapnya, mayoritas alumni Unpad dan masyarakat umum. Tempatnya di Ruang Serba Guna Gedung 2 Rektorat Unpad, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung.

Sembilan ‘balon’ Rektor Unpad itu: Arief S Kartasasmita, Arry Bainus, Hendarmawan, Keri Lestari, Reiza D Dienaputra, Rina Indiastuti, Sri Mulyani, Toni Toharudin, dan Unang Supratman. Mereka ini berasal dari berbagai faultas dengan ragam disiplin ilmu.

Awalnya, Effendi Gazali selaku pemandu acara mengajukan pertanyaan setujukah atau tidak, bagaimanakah sikap para ‘balon’ terkait Revisi UU KPK? Uniknya, jawabannya hanya boleh dengan dua gestur saja – duduk atau berdiri.

Jelasnya pertanyaan itu, ‘balon’ yang merasa keberatan terhadap RUU KPK yang hari ini telah disahkan menjadi UU, bisa langsung berdiri. Sedangkan bagi yang merasa kebijakan tersebut sudah tepat atau netral, tetap duduk di tempat.

Reaksi pertama yang tampak oleh sebagian besar alumni yang hadir di Ruang Serba Guna Gedung 2 Rektorat Unpad, ke sembian ‘balon’ ini duduk dengan sebagian tampak seperti ‘cecalingungkan’ tanda kebingungan – bagaimanakah seharusnya mereaksi pertanyaan ini?

Demi lebih meyakinkan, Effendi dibantu Indy mengulang pertanyaannya. Tetap, jawabannya atau reaksinya, semua masih terduduk !

“ Wuih, netral nih atau bagaimana para calon rektor ini atas tindakan DPR, padahal mahasiswa Unpad mengkritiknya dengan keras,” seru beberapa alumni yang bergerombol di salah satu sudut ruangan.

Tak Setuju 35% Menristekdikti

Sesi lanjutannya yang tampak menarik, kembali Effendi Gazali dan Indy Rahmaati meminta sembilan ‘balon’, menunjukkan sikapnya atas hak suara Menristekdikti itu. ” Kalau tidak setuju, silakan berdiri. Kalau netral atau setuju, silakan tetap duduk,” paparnya.

Pada tahapan ini, terjadi kejutan!  Ada lima ‘balon’ rektor Unpad yang spontan berdiri disambut gemuruh tepuk tangan hadirin. Yang empat ‘balon’ lainnya itu, Arief S Kartasasmita, Rina Indiastuti, Sri Mulyani, dan Unang Supratman tetap saja duduk.

Sekedar info, sesuai Peraturan Perguruan Tinggi berstatus PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum), pemilihan rektor dilakukan oleh Majelis Wali Amanat (MWA). Salah satu unsur dalam MWA ialah Menristekdikti sebagai representasi pemerintah pusat. Dalam pemilihan rektor ini, ia memperoleh hak suara 35 persen dari jumlah suara. Artinya, jika MWA Unpad beranggotakan 17 orang, maka seorang Menristekdikti pada pemilihan itu bernilai 6 suara dari total 17 suara.

Sesi paling akhir pada acara ini, setiap kandidat diminta menyebut siapa lawan terberatnya dalam pencalonan ini. Tentu saja ini sempat menimbulkan keriuhan tersendiri, namun suasananya tetap terkendali dan dinamik, kata banyak hadirin. Pada tahap ini, pakar semiotika Acep Iwan Saidi menjelaskan interpretasi visi dari gambar yang dibuat oleh para ‘balon’. (Harri Safiari )