Maraknya Pukat Trawl Di Tanjungbalai Kembali Resahkan Nelayan Kecil

JayantaraNews.com, Tanjungbalai

Maraknya ‘Pukat Trawl’ yang kembali beroperasi di Tanjungbalai membuat resah para nelayan dan pemilik kapal yang menggunakan alat tangkap tradisional.

Seperti diketahui, Pukat Trawl menggunakan alat tangkap yang berpotensi mengancam keberlangsungan ‘Ekosistem Laut’.

Penggunaan Trawl dengan mengeruk dasar perairan, pastinya akan merusak habitat, selain itu, penggunaan mata jaring yang kecil juga menyebabkan tertangkapnya berbagai jenis biota yang masih anakan atau belum matang.

Berdasarkan pantauan awak media pada Sabtu (14/9/2019), terlihat Pukat Trawl yang tengah menyandar di beberapa Gudang Ikan GMA yang berada di Jalan Besar Teluk Nibung.

Saat diwawancarai, salah seorang warga yang berprofesi sebagai nelayan tradisional mengatakan, bahwa beroperasinya kembali Pukat Trawl sangat meresahkan para nelayan kecil. ” Pukat Trawl ini hampir satu tahun setengah tidak beroperasi setelah kejadian waktu seluruh nelayan kecil Tanjungbalai melakukan pembakaran terhadap kapal-kapal Pukat Trawl. Tapi lima bulan belakangan ini, mereka kembali beroperasi, dan yang bersandar di Gudang GMA itu baru pulang, tiga kapal lagi masih ada di tengah laut sedang beroperasi, ada juga yang bersandar di beberapa gudang lagi seperti Gudang GH Baru, dan Gudang SBU,” terangnya.

” Seharusnya pemerintah dan aparat penegak hukum pro-aktif dengan hal ini, karena sudah beberapa kali saat kami di laut mengalami kerugian akibat alat tangkap yang mereka operasikan. Jaring kami beberapa kali rusak akibat tertarik alat tangkap mereka yang dengan cara mengeruk ke dasar laut hingga merusak habitat laut. Apa kami harus melakukan dengan cara kami sendiri seperti yang pernah terjadi dulu?,” ulasnya.

Peraturan Menteri No 2 Tahun 2015 tentang penghentian total penggunaan alat penangkapan ikan jenis Trawl di perairan Indonesia, merupakan langkah yang tepat. Karena alat tangkap tersebut berkontribusi besar terhadap rusaknya habitat laut, pemborosan sumber daya laut, mempengaruhi siklus hidup biota laut, dan mengancam populasi biota, kunci yang menjaga keseimbangan alam, seperti penyu dan hiu. (Eko Setiawan)