Loading...

Warga Resah! Pantai Ujung Genteng Sukabumi Jadi Tempat Mangkal Para PSK

Gambar Ilustrasi

JayantaraNews.com, Sukabumi

Maraknya para pekerja seks komersial (PSK) di sekitaran Pantai Ujung Genteng Sukabumi, berdampak negatif bagi wilayah sekitar. ” Terlebih, di musim pengajian maulid, sementara yang bermukim sekitaran Pantai Ujung Genteng sebagian besar umat muslim. Belum lagi suara dentuman alunan musik yang tak kenal waktu dari warung remang-remang tersebut,” ungkap salah seorang warga, yang juga menyayangkan ketidaksigapan pemerintah akan keresahan warga sekitar.

Disinyalir, para PSK yang mangkal di warung remang sekitaran Pantai Cibuaya sampai kebun kelapa Ujung Genteng, bahkan sampai Pantai Palangpang itu kebanyakan pendatang. ” Mereka kebanyakan dari Cianjur, Bandung, Sukabumi dan Bogor. Pribuminya hanya sekitar 1/5 dari sekian banyak PSK yang mangkal,” imbuh warga.

Sementara, para tokoh pemuda sekitar Desa Pangumbahan Ujung Genteng mengungkapkan,” kami bukan tidak berani melakukan sweeping, tapi kami tidak mau berbenturan fisik dengan para pelaku (oknum) penjual para PSK, dan kami sangat menunggu kerjasama pemerintah setempat untuk menertibkan para PSK,” paparnya dengan nada kecewa.

Bahkan, kami sempat mengadukan hal ini ke pihak kecamatan, namun jawabannya tidak memuaskan. ” Yang jelas kami kecewa, karena Pantai Unjung Genteng yang kami cintai ini dikotori banyak PSK,” tandas salah satu tokoh pemuda melalui JayantaraNews.com, Minggu (10/11).

Salah satu PSK yang sempat ditemui dan berbincang dengan JayantaraNews.com, sebut saja Bunga (19) warga Kabupaten Cianjur mengatakan, bahwa dia sengaja datang, karena tekanan ekonomi. ” Jika short time, kita dibayar 300 ribu, dan kalau nginap di vila/hotel sekitaran pantai, kisaran 500 – 800 ribu bang,” jelas Bunga sembari menyulut rokok dengan gaya yang aduhai.

Demikian juga Indah (18), PSK warga asli Sukabumi. Ia mengatakan, bahwa dia datang hanya untuk mencari uang. ” Kita sebenarnya juga ngga mau kerja begini bang, jadi penjaja seks laki-laki hidung belang. Karena kami takut di angkut lagi dan dibawa ke panti rehab yang ada di Cibadak. Ini terpaksa kami lakukan bang, kami punya anak, masih kecil yang perlu biaya makan,” keluhnya.

” Kami nginap dengan teman-teman di warung remang, pura-pura jual kopi atau masakan nasi, sambil ngobrol. Jika tamu memungkinkan, kemudian mau di ajak ngamar, ya kita langsung bawa, sekali main kisaran 200-300 tergantung tamunya, jika tamunya rese sambil mabuk paling kami dibayar 150 ribu bang, habis mau gimana lagi?,” ujarnya.

Menyikapi hal tersebut, H Busro, MUI Kecamatan Ciracap, membenarkan akan maraknya para PSK di sekitar Pantai Ujung Genteng. Dipertanyakan perihal banyak mangkalnya para PSK, ia mengatakan,” jelas merasa terganggu, apalagi sekarang musim pengajian memperingati Maulid Nabi di sekitaran Cibuaya dan masjid kebun kelapa,” ujarnya.

” Sebenarnya, kami pun menunggu instruksi pihak pemerintah kabupaten, karena jika dibiarkan, apakah kita tidak kena imbas dosanya?,” tutupnya. (Tim)