Loading...

Polsek Medan Labuhan Dinilai Lamban Tangani Kasus Kematian Rian Fani

Tim Advokasi bersama keluarga korban

JayantaraNews.com, Medan Labuhan 

Harapan seorang ibu bernama  Asni Hawiyah (54), warga Jalan Tangguk Sentosa 3 No 81 Blok IV, Kelurahan Besar, Kecamatan Medan Labuhan, untuk mendapatkan keadilan oleh aparat penegak hukum (APH) atas kematian putrinya, mungkin hanya impian belaka.

Pasalnya, anaknya yang bernama  Rian Fani (20), yang diduga dibunuh oleh SS alias Gobek dkk, di Kawasan Jalan Pulau Nias Selatan Kim II Mabar, Desa Saentis, Kecamatan Percut Sei Tuan, belum juga menemukan titik terang.

Laporan Polisi dengan No: LP/766/XII/2018/SU/Pel. Blw/Sek – Medan Labuhan tanggal 16 Desember 2018.

Penanganan kasus pembunuhan yang ditangani oleh Polsek Medan Labuhan, atas nama Rian Fani (korban) yang kini sudah meninggal, menjadikan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja aparat penegak hukum (APH) wilayah setempat, luntur. Warga beranggapan, bahwa kasus dari tahun 2018 itu, seakan-akan di “Peti Es”kan.

Tim Penasehat Hukum AAA+Law Office Ardianto, SH, MH.d, Iman Syahputra, SH, Alansyah Putra, SH, Raja Indra Sakti Rangkuti, SH, Muhammad Al Amin Rasyid Abbas Nst, SH, MH, Muhammad Reza Rayhan, SH, Muhammad Fachri Alamsyah, SH, Chairul Imam, SH dan Muhammad Amri, SH, mendatangi kediaman ibu korban (Asni Hawiyah), yang memohon dan meminta bantuan secara hukum.

” Di situ, ibu korban menangis sambil mempelihatkan foto anaknya, sembari mengatakan,” sedih kali lah kau dek, capek mamak sekolahkan kau, dibunuh orang pula kau udah. Tolonglah bantu kami yang orang susah ini,” ucap salah satu Tim Penasehat Hukum AAA + Law Office Raja Indra Sakti Rangkuti, SH, kepada JayantaraNews.com, melalui pesan WhatsAppnya.

Sementara itu, Tim Penasehat Hukum yang lain, Alansyah Putra, SH, kepada JayantaraNews.com, Kamis (07/11/2019) mengatakan,” korban sebenarnya ada dua orang, yang masing-masing bernama Rian Fani dan rekannya Elvan. Tapi Elvan selamat dengan keadaan luka-luka serius, dan Rian Fani meninggal di tempat.”

” Saat itu, korban Rian Fani dan  Elvan cekcok sama kelompok lainnya. Sebenarnya ini hanya gara-gara selisih paham antara dua kelompok. Di situ, Rian Fani ditendang dan dilempar pakai helm sama kelompok lainnya. Lalu Rian Fani dibonceng temannya Elvan naik sepeda motor, melarikan diri dari amukan kelompok lain. Kelompok tersebut pun melakukan pengejaran terhadap Rian Fani dan Elvan sehingga tidak dapat. Namun tiba di Kawasan Industri Medan (KIM), yang kebetulan gelap, ada 4 orang memukul Elvan pakai bisbol dilihat rekan-rekan Rian Fani dan Elvan. Di situ juga, Elvan dilihat oleh rekan-rekanya dipukul lagi dan ditikam sehingga korban Elvan masuk ke parit. Usai dipukul, Elvan dinaikan ke sepeda motor dan dibawa segerombolan kelompok tersebut, entah kemana. Tapi Rian Fani tidak kelihatan. Lalu dicari oleh rekan-rekan kedua korban sampai dapat. Di TKP, Rian Fani ditemukan dalam keadaan tersungkur dengan kaki patah dan tidak bernyawa lagi. Orang tua Rian Fani bernama Asni Hawiyah, yang merasa sakit hati atas meninggal anaknya yang diduga di aniaya oleh kelompok tersebut, langsung membuat Laporan Polisi ke Polsek Medan Labuhan pada tanggal 16 Desember 2018,” jelas Alansyah Putra, SH, salah satu Tim Penasehat Hukum keluarga korban.

Masih dikatakan Alansyah, ironisnya, di malam ketiga yang masih dalam keadaan berduka, orang tua para pelaku datang ke rumah orang tua korban Rian Fani, dengan niat ingin melakukan perdamaian. Di situ juga, orang tua para pelaku mengatakan,” kasian dengan anak-anak kita ini, yang satu hukumannya segini dan yang satu lagi hukuman segini.” Lalu dijawab oleh orang tua Rian Fani (korban),” kami masih berduka dan kami pun belum ada memikirkan perdamaian itu, nantilah dulu, tunggu seminggu lagi,” ulas Alamsyah, menirukan ucapan orang tua korban (Rian Fani).

Lanjut, kemudian orang tua korban Rian Fani meminta tanggapan sama Kepala Lingkungan (Kepling ) setempat, dan Kepling tersebut memberi saran,” kalau mau berdamai, bicarakan saja baik-baik sama para orang tua pelaku.” Tapi sampai sekarang belum ada jawaban dari orang tua para pelaku dan tidak ada dilakukan pembicaraan perdamaian dari para orang tua pelaku sama orang tua korban. Ironisnya lagi, beberapa saksi sudah diperiksa oleh penyidik Polsek Medan Labuhan. Tapi sampai sekarang juga penyidik bilang masih dalam lidik, kan aneh kita lihat jadinya.”

Atas peristiwa tersebut, awak Media JayantaraNews.com langsung mengkonfirmasi pada tanggal 10 November 2019, sekitar pukul 23.36 WIB kepada Kapolsek Medan Labuhan AKP Edy Syafari melalui pesan singkat WhatsApp-nya perihal kasus pembunuhan dimaksud. Ia (Kapolsek) menjawab singkat. ” Masih dilidik dan kasus masih diproses”. (Sp)