Loading...

Imbas Penutupan Quarry Di Pangandaran, Puluhan Sopir DumpTruck Menjerit & Terancam Menganggur

JayantaraNews.com, Pangandaran

Penutupan lokasi galian tambang (quarry) yang dilakukan oleh Kepolisian Resort Ciamis, Rabu, 13 November 2019 lalu, menuai polemik dan keprihatinan dari para sopir Dump Truck dan warga sekitar, menyusul adanya pemberitaan terkait galian dimaksud.

Baca juga: Pertambangan Batu Andesit & Galian C Di Kab Pangandaran Seolah Tak Tersentuh Hukum! – https://www.jayantaranews.com/2019/11/43440/

Hari Sabtu kemarin, 16 November 2019, puluhan sopir yang bergabung dengan beberapa warga dan tokoh masyarakat sekitar galian, berkumpul dan duduk bersama di lokasi galian untuk mencari langkah terbaik dan berharap adanya titik temu.

Kumpulan warga yang mengatasnamakan Paguyuban Para Sopir Dump Truck Kecamatan Kalipucang ini, datang secara bersama-sama dengan membawa kendaraan mereka masing-masing.

Hal ini dilakukan para sopir dan warga sekitar adalah suatu ungkapan kesedihan yang mendalam. Karena setelah dilakukan penutupan galian oleh pihak Polresta Ciamis, secara otomatis para sopir menganggur dan terancam kehilangan pekerjaan, pasalnya mereka hanya mengandalkan penghasilan sehari-hari dari galian tersebut.

Mukhsinin (48), sebagai Ketua Paguyuban para sopir membenarkan hal tersebut. ” Lihat saja wajah-wajah mereka mas. Mereka terlihat sedih dan seolah menjerit,” ujarnya ketika diwawancarai Tim JayantaraNews.com di lokasi galian.

Mukhsinin juga menjelaskan, dengan ditutupnya lokasi galian, ini jelas sekali berdampak juga kepada nasib dan masa depan para sopir dan warga sekitar yang selama ini ikut berjualan di lokasi galian.

Satu contoh Alil (45), sopir Dump Truck. Ia harus mencukupi kebutuhan keluarga dengan ke empat anaknya,” gara-gara lokasi galian ditutup, gimana nasib istri dan anak saya mas,” ungkapnya datar.

Yono (48), dia berdagang kecil-kecilan di lokasi galian untuk sekedar melayani kebutuhan para sopir. Tapi dengan ditutupnya lokasi galian, Yono mengaku sudah tiga hari ini warungnya tutup karena tidak ada yang membeli.

Yang kasihan Nek Konteng (70), seorang nenek janda yang biasa berjualan kacang dan gorengan, sekarang tidak nampak berjualan karena tahu lokasi galian ditutup. Dan mungkin masih ada puluhan orang lagi di belakang Yono dan Nenek Konteng, yang belum tahu seperti apa nasib mereka ke depan.

Disinggung soal keinginannya, Mukhsinin (Ketua Paguyuban Para Sopir, red.) menuturkan,” saya tidak bisa masuk ke ranah yang terlalu dalam mas. Memang diakui, semenjak ditutupnya quarry (galian) tersebut, para sopir Dump Truck kehilangan mata pencaharian. Ada baiknya kalau para pihak pengusaha yang belum atau sedang dalam pengurusan legalitas perizinan mohon dibantu didorong agar lancar. Karena asumsi kita selama ini, bahwa seakan jalur birokrasi untuk perizinannya saja sulit.”

” Semoga pemerintah dan pihak-pihak terkait, khususnya pihak Resort Ciamis dan Kepolisian Daerah Jawa Barat, mau memberi sedikit kebijakan dan mau membuka kembali lokasi galian kami, mengingat penghasilan kami hanya mengandalkan dari galian tersebut,” ungkap Mukhsinin.

” Kami tahu kami salah, tapi kami juga butuh bimbingan, karena sudah jelas dan memang kami rasakan dampaknya, semenjak quarry (galian) ini ditutup, saya dan teman-teman sopir dan para pedagang jadi menganggur. Dan kami benar-benar berharap, adanya upaya kebijakan dari Pemerintah dan Penegak Hukum untuk mengevaluasi kembali nasib kami ke depan,” pungkasnya dengan nada sedih. (Herru Oct. JN)