Merasa Jadi Korban Penipuan, RZ & AS Adukan Ke Media JAYANTARANEWS

JayantaraNews.com, Rancaekek

JayantaraNews.com, Kab Bandung

Berawal dari 2 (dua) orang yang berinisial AS dan RZ (korban penipuan), yang rencananya mau mengajukan pinjaman dana ke pihak bank dengan sistem take over agunan, namun malah berimbas kena tipu.

Hal ini terungkap, ketika korban (AS & RZ) dikelabui oleh sekelompok orang yang diduga sindikat mafia, sehingga tertipu puluhan juta rupiah, Jum’at (13/12/2019).

NV, salah satu anak dari AS (korban) melalui JayantaraNews.com mengatakan,” bapak saya awalnya mau mengajukan pinjaman ke pihak bank lain dengan take over agunan sertifikat, yang saat ini masih tersimpan di salah satu Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) dan masih terdaftar sebagai konsumen. Namun naasnya, pengajuan tersebut melalui salah seorang yang diketahui bernama Ririen Aninditya (RA) yang mengaku bekerja di salah satu bank dengan menawarkan jasa untuk mengajukan pinjaman dengan cara take over,” ungkapnya, Kamis (12/12/2019).

” Waktu itu, bapak saya katanya mau dijembatani oleh orang tersebut (RA). Sehingga persyaratan aplikasi dan foto copi agunan dan buku rekening serta ATM-nya, suruh diserahkan kepada orang tersebut (RA), yang konon katanya akan dipergunakan sebagai aplikasi pengajuaan. Namun setelah beberapa minggu, pengajuan peminjaman dengan jalan take over tersebut belum juga terealisasi, malahan dia (RA) meminta uang dengan alasan untuk ini untuk itu, bahkan untuk booking notaris segala,” urai NV.

” Karena bapak saya ingin ada realisasi, walaupun waktu itu pas tidak ada uang, maka dengan terpaksa, bapak saya meminjam ke koperasi lain untuk bayar administrasi yang ia (RA) minta. Karena saking percayanya akan ada pencairan (akad kredit) dari bank lain, bapak saya sampai beberapa kali mengirim uang kepada orang tersebut, hingga total yang saya kirim berjumlah Rp 13 jutaan.”

Menurut NV, uang tersebut dikasih kepada RA, ada yang melalui bayar tunai (cash), ada yang ditransfer lewat bank, dan ada juga dibayar memakai barang (baju) hasil konfeksi bapak saya sendiri, paparnya.

Namun, keluh NV, setelah beberapa bulan dan hampir satu tahunan, nyatanya pencairan pinjaman itu tidak ada kabar realisasinya. ” Bahkan, setiap kali dipertanyakan sama saya, dia (RA) dan rekan lainnya yang diduga masih ada keterlibatan tim dengan RA, selalu memberikan beribu-ribu alasan. Kami merasa dirugikan dan ditipu oleh kelompok orang tersebut,” keluhnya.

Demikian juga RZ, (korban penipuan yang sama) menuturkan,” saya juga sama mengajukan pinjaman bareng dengan Pak AS ke orang tersebut untuk take over pinjaman dari bank lain, dan sama melalui RA. Namun faktanya, sama seperti yang dialami Pak AS, kami hanya diberikan janji-janji palsu.”

” Tidak hanya itu, menurut pengakuannya, dia katanya dari pihak Bank Mayapada, bahkan agunan (aplikasi) saya dan Pak AS diajukan ke Bank Mandiri, BRI, dan BNI, tapi tidak dijelaskan bank cabang mananya,” sebut RZ.

” Setelah itu, dan sudah beberapa lama sampai setahun lebih, nyatanya tidak ada lagi komunikasi, bahkan tiap kali ditelepon atau di SMS pun tidak pernah ada jawaban. Pernah beberapa hari kebelakang, Bu RA ada SMS ke saya, dia bilang minta KTP, katanya ada dana sumbangan dari seseorang untuk yayasan, tapi saya tolak, karena bapak saya sudah tidak berkenan dikasih bantuan. Silahkan saja kasih ke orang lain,” kata RZ.

Alasan kami menolak sangat jelas, karena takut tertipu lagi seperti waktu pengajuan pinjaman yang juga tidak ada realisasinya sampai sekarang. Jadi sudah merasa kecewa dengan orang tersebut. ” Tetapi Bu Ririen (RA) masih SMS terus, dan dia bilang bahwa yang mau ngasih sumbangan sudah merespon, sambil minta difotokan lagi KTP dan KK saya. Dia bilang, ini buat pengajuan sumbangan ke luar negeri, soalnya teman ibu (RA) juga sudah cair dari sumbangan tersebut, sembari mengirim bukti transfer ke WA saya, namun bukti transferannya (nama dan nomor rekeningnya) dicoret/ditutup,” paparnya.

” Padahal setelah ditelusur karena penasaran dan curiga, nyatanya bukti transfer yang ditutup itu milik saya pribadi. Hingga keesokan harinya, saya cek ke ATM terdekat, dan benar, di rekening saya atas nama RZ ada uang masuk (transfer) senilai Rp 60 juta,” ungkap RZ.

” Kayanya uang transferan tersebut mau dia ambil, tetapi PIN-nya keblokir, karena sebelumnya saya bikin buku rekening dan ATM untuk persyaratan pengajuan dana. Buku dan ATM saya dibawa oleh Bu RA. Mungkin orang itu yang transfer, dia (RA) masukin ke rekening saya untuk menghilangkan jejak,” tuturnya.

” Keesokan harinya, datang 3 (tiga) orang ke rumah, dan salah seorang dari mereka (Tomi) mengaku atas nama pihak yang mentransfer uang. Tapi saya dan Pak AS tetap menolak untuk mengembalikan uang tersebut.”

Senada, AS (korban) menuturkan,” kami merasa dirugikan dan ditipu oleh Bu RA dan temannya, sehingga uang tersebut tidak akan dikembalikan, seakan ganti kerugian, karena selama ini uang kita tidak dikembalikan, dan tidak ada niat baik kepada kami.”

” Tiba-tiba, sekarang mereka datang kembali karena salah kirim uang. Padahal sebelumnya tidak pernah datang, bahkan di SMS dan ditelepon pun sangat susah. Kami mau minta berkas dan uang yang telah mereka pakai agar dikembalikan,” tutur AS.

Jadi, lanjut AS, intinya kami tidak mau mengembalikan uang tersebut, dan seolah ganti uang dan kerugian kami yang selama ini dibohongi. ” Terlepas itu uang siapa dan dari mana, itu terserah dan tanggung jawab Bu RA,” tegas AS dengan nada kesal. (Jafar)