Rully Rahadian: Wartawan Harus Pahami Konsep Perang Asimetris Sebagai Upaya Bela Negara

Rully Rahadian, Wakil Ketua Umum PWOIN (Pemateri Wawasan Kebangsaan)

JayantaraNews.com, Kota Depok

Usai pelantikan pengurus Perkumpulan Wartawan Online Independen Nusantara atau PWOIN Kota Depok yang dikomandani oleh Benny Gerungan, panita acara menggelar diskusi “Wawasan Kebangsaan” yang diprakarsai oleh PWOIN Kota Depok.

Sebuah inisiatif yang sangat baik dalam menyikapi bangsa yang rentan terhadap perang asimetris ini.

Bangsa yang kita cintai ini sudah memasuki tahap krisis nilai-nilai kebangsaan, yang mau tidak mau, suka tidak suka akan berpengaruh terhadap eksistensi bangsa ini, karena proyeksi situasi dan kondisi ini secara langsung berdampak terhadap identitas dan karakter bangsa.

Sebut saja Rully Rahadian, salah satu dari pemateri dalam pagelaran acara tersebut. Rully yang tidak lain adalah Wakil Ketua Umum PWOIN memaparkan materi diskusi mengenai “Hadirnya PWOIN Dalam Menajawab Tantangan Perang Asimetris”.

Diskusi yang berjalan sekitar satu jam ini berjalan dinamis dan interaktif dengan peserta yang hadir.

Dalam paparannya Rully menyampaikan, bahwa pentingnya seorang wartawan khususnya wartawan online untuk memahami konsep “Perang Asimetris” ini, karena masyarakat sebagian besar sudah tergantung kepada gadget dan jaringan internet. Bahkan kini masyarakat lebih aktif terlibat dalam kegiatan interaksi dengan media sosial.

Jika berita yang masyarakat terima sifatnya Hoax, tentunya akan berbahaya dan memberikan dampak negatif dalam sistem kemasyarakatan. Kita tidak pernah bisa menebak, kapan, dimana, dan melalui konsep seperti apa para aktor “Perang Asimetris” bergerak dalam menjalankan aksinya.

Di sinilah dibutuhkan ketajaman analisa para wartawan, sehingga mampu meluruskan berita simpang siur, dan memiliki strategi yang tepat dalam mendistribusikan berita melalui berbagai bentuk media online, baik media sosial maupun media komersial.

Wartawan harus benar-benar paham mengenai “Perang Asimetris” itu sendiri.

Merujuk kepada Dewan Riset Nasional (DRN), “Perang Asimetris” dapat dijabarkan sebagai suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim, dan di luar aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup aspek-aspek astagatra (perpaduan antara trigatra: geografi, demografi, dan sumber daya alam/SDA, dan pancagatra: ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya). Perang asimetris selalu melibatkan peperangan antara dua aktor atau lebih, dengan ciri menonjol dari kekuatan yang tidak seimbang.

Artinya, dampak yang akan ditimbulkan dari fenomena tersebut adalah terbentuknya “Penjajahan Paradigmatis”, yang akan menimbulkan benturan sistem nilai, norma, dan kepentingan universal yang akan berseteru dengan kepentingan nasional, dengan beberapa bentuk, seperti; 

1. Semakin maraknya berbagai bentuk rivalitas berdasarkan ambisi kekuasaan tanpa mempertimbangkan skala prioritas pada kepentingan nasional,

2. Memanfaatkan kebebasan Pers untuk menjalankan kepentingan aktor negara maupun aktor non negara,

3. Memunculkan kebebasan yang bersifat individualistik yang berpotensi membenturkan nilai-nilai universal dengan nilai-nilai nasional negara kita.

Tentunya dengan berbekal pemahaman dasar mengenai “Perang Asimetris”, seorang wartawan akan mampu membangun opini yang positif di masyarakat, sehingga mampu mengantisipasi gejala-gejala negatif yang sudah didesain oleh para aktor yang ingin menggunakannya untuk merusak bangsa ini.

” Tapi kita tidak perlu pesimis, karena masyarakat kita semakin cerdas. Disamping itu, Wartawan adalah profesi yang mulia sebagai pembawa kabar yang benar dan mencerdaskan masyarakat. Prinsip seorang wartawan yang lebih baik tahu sedikit mengenai banyak hal daripada tahu banyak mengenai satu hal merupakan modal dasar dalam menyebar pemahaman positif untuk mengantisipasi “Perang Asimetris”, disamping pemahaman wawasan Kebangsaan yang sudah semestinya berada dalam genggaman,” pungkas Rully di akhir paparannya.

Sebagai penutup, Rully menyampaikan, “Budaya” merupakan kata kunci dalam melindungi bangsa ini dari carut marut dampak “Perang Asimetris”. Kita harus terus aktif membangun pemahaman budaya di masyarakat, khususnya kearifan lokal kita, karena bangsa ini adalah bangsa yang berbudaya Adiluhung sejak dulu.

Para aktor dunia sangat mengerti dan tahu, bahwa Indonesia sangat kaya dengan sumber dayanya, sehingga Indonesia menjadi perebutan di dunia.
Mereka tahu, dengan memecah belah dan menghilangkan budayanyalah cara menghancurkan bangsa ini.

Rully juga mengajak kepada para peserta agar menyadari, bahwa budaya adalah benteng terakhir dari bangsa ini yang harus kita rawat dan kita jaga bersama.  (Red)