Loading...

Setuju, Hentikan Tebang Tegakan Bambu Di Blok KW 9 RPH Arcamanik Bandung Utara

JayantaraNews.com, Cimenyan  

Intisari hasil diskusi bertajuk “Penanganan Kerusakan Tegakan Bambu” di Kawasan Hutan Blok KW 9 petak 50 b (luas baku 9.30 Ha), yang diprakarsai Perhutani dan digelar di GOR Komplek Kantor Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, pada Senin (13/1/2020) setelah lebih dari dua jam dibahas mendalam oleh sekitar 80-an peserta – Setuju, penebangan tegakan bambu di area KW 9 seperti termaksud, dihentikan alias ditutup!

“ Kerusakannya sepertinya sistematis, maka distop saja. Ini kan statusnya hutan lindung. Terjadi alih fungsi lahan dari tanaman bambu ke tanaman kopi. Ini tidak bisa dimaafkan. Pelanggarnya, harus menerima konsekuensi hukum,” jelas Wakil Administratur Perhutani KPH Bandung Utara Diki HM. Ia hari itu hadir mewakili Administratur Perhutani KPH Bandung Utara, Komarudin.

“ Bila masih ada yang coba-coba berani melakukan penebangan bambu yang sudah rusak parah dalam 2 tahun terakhir, akan saya ambil tindakan tegas. Ya, tegas untuk dibina. Bila masih juga bandel setelah dibina, serahkan saja ke penegak hukum. Itu tuh kan ada Pak Kompol Anton Tindaon (Pabin Polhut KPH BDU),” kata Kol Inf Asep Rahman Taufik Dansektor 22 Satgas Ciitarum Harum, sambil menunjuk rekannya yang berdiri di dekatnya.

Bagi Anton Tindaon, sesaat setelah semua personil yang mewakili Perhutani, pemerhati lingkungan, dan warga di seputar KPH Bandung Utara dari lintas elemen, menandatangani kesepakatan untuk menjaga hutan lindung – mere tidak melakukan hal terlarang dalam konteks pelestarian hutan:

“ Betul itu, seperti kata Dansektor 22 Citarum Harum, bila masih membandel, tindakan hukum berlaku bagi siapa pun penebang bambu dan tanaman lain di area KW 9,” katanya yang diamini Edi Kusnadi ‘Penyuluh Kehutanan’ dari Kantor Cabang Dinas Kehutanan wilayah Kabupaten Bandung.

Sementara, bagi Nurhadi tercatat sebagai Koordinator Relawan Pohon CADAS (Ciri Aspirasi Dari Abdi Sanagara), yang di antaranya melaksanakan pendampingan terhadap warga yang tinggal di sekitar Blok KW 9, khususnya yang setuju atas pemulihan segera tanaman bambu:

“ Semua sepakat, ini didukung lebih dari 80 orang dari berbagai unsur. Besok atau lusa, lakukan tindakan yang sama di lapangan, harus berlangsung. Jadi, aksi hari ini jangan menghasilkan wacana saja, melainkan aksi nyata juga di lapangan.”

Lebih jauh Nurhadi menyatakan: “ Coba kita hitung sederhana, salah satu aspek kerugiannya. Kasarnya, 50 batang bambu (masing-masing 25), diangkut setiap satu sepeda motor. Per hari minimal secara terang-terangan ada 5 sepeda motor, dalam tempo 2 tahun anggaplah 700 hari. Hitungan kasar harga ‘mentah’ per batang Rp 2.000 saja,” katanya – “ Jadi kerugian ‘negara’ itu, minimal perkirakaan 700 hari X 250 batang X @ Rp. 2.000 = Rp 350.000.000. (tiga ratus lima puluh juta rupiah).”

Kata Nurhadi pula, ada lagi kerugian oksigen yang hilang,  ekosistem yang rusak berupa dampak kekeringan dari banyak seke (mata air), hilangnya plasma nuftah, dan terputusnya rantai hidup flora dan fauna di sekitar hutan lindung di sekitar gunung Palasari dan Manglayang, Kabupaten Bandung:

“ Pokoknya, kita rugi, serugi-ruginya!” imbuhnya yang diangguki rekannya dari Relawan Pohon CADAS. 

Dulu, 1961

Berdasarkan kajian kesejarahan, tanaman bambu di Blok KW 9 menurut Suherman selaku penduduk senior di wilayah Mekarmanik:” Ini ditanam oleh karuhun kita sejak 1961. Saya tahu betul, kalau sekarang ditebang begitu saja, sangat disesali. Bagaimana nanti anak cucu kita, bakalan tak tahu lagi, apa itu pohon bambu yang serba guna untuk pelestarian alam? Biarkan rumpun bamboo ini masih di musim hujan, mulai tumbuh iwung…”

Selanjutnya, disepakati oleh dua pemrakarsa utama, Dansektor 22 Satgas Citarum Harum, dan Diki HM, betapa begitu besar antusiasme dari para peserta untuk melanjutkan, atau memperkuat pesan di gempungan ini:

” Segera di awal Februari 2020, kita perdalam lagi di Alam Santosa Pasir Impun, Cimenyan. Ya, di tempat Pak Eka Santosa. Lingkup kepesertaan dan bahasan-nya, bisa lebih luas, lagi mendalam,” jelas Asep Rahman yang dalam kesempatan ini banyak mengungkap ‘posisi dan fungsi’ bambu dalam konteks budaya dan kearifan lokal bagi warga Jabar – “ Jangan heran, kini masih ada anak-anak yang tak tahu beberapa perkakas kita malah terbuat dari bambu. Ayakan (saringan), tampir, boboko, itu khas dan melekat terbuat dari bambu.”

Pada pihak lain masih di GOR Desa Mekarmanik ini, Deden salah satu peserta yang tiggal di Desa tetangga Cikawari, Cimenyan, merasa bungah dengan munculnya kesepakatan:

” Apapun itu, tindakan yang dilakukan katanya oleh para pengrajin bambu (tukang condre), menebang bambu secara semena-mena, itu menyalahi aturan. Saatnya, dihentikan paksa. Aparat Penegak Hukum segeralah bertindak tegas, jangan lagi diberi ‘omber’  kesempatan,” tutupnya. (Harri Safiari)