Loading...

Rencana Pembangunan TOD Tegalluar, KCIC Sosialisasikan AMDAL

JayantaraNews.com, Kab Bandung

Bertempat di Rumah Makan Ponyo, Kecamatan Cileunyi, pada 09.00 WIB, pihak Konsultan KCIC mengadakan sosialisasi (konsultasi publik), mengurai terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), Selasa (14/1/2020).

Acara sosialisasi dihadiri oleh 7 kepala desa dan perwakilannya yang terkena dampak Proyek KCIC, diantaranya; Desa Cibiru Hilir, Desa Cinunuk, Desa Cileunyi Kulon, Desa Cileunyi Wetan, Desa Rancaekek Wetan dan Desa Rancaekek Kulon, selain hadir juga dari jajaran Kapolsekta dan Danramil dari Kecamatan Cileunyi dan Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, berikut para tokoh masyarakat dan tamu undangan lainnya.

Pihak Konsultan KCIC, yang diwakili Yana memaparkan, bahwa proses pembuatan  AMDAL, semua stakeholder dilibatkan, sehingga dampak positif dan negatifnya bisa didiskusikan. ” Sangat memerlukan masukan-masukan dari masyarakat, khususnya daerah yang terkena langsung proyek TOD KCIC,” tuturnya.

” Rencana pembangunan TOD akan difloating seluas 350 hektare, yang meliputi Kecamatan Cileunyi dan Rancaekek, dan 7 desa, yakni; Desa Cibiru Hilir, Desa Cinunuk, Desa Cileunyi Kulon, Desa Cileunyi Wetan, Desa Rancaekek Wetan dan Desa Rancaekek Kulon),” jelas Yana.

Sementara itu, Ela Ratnasari, salah staf dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung, diwawancarai JayantaraNews.com mengatakan,” penerbitan AMDAL juga harus mencakup aspek ekonomi dan sosial masyarakat. Tanpa ini, saya jamin AMDAL tak akan kami terbitkan,” tegasnya.

Demikian juga Danramil Rancaekek Kap Inf Mamat Raidin menyampaikan,” proyek pemerintah wajib kita dukung. Untuk masalah Amdal, mengacu pada Perpu 27 Tahun 1999, hendaknya diupayakan mencari solusi yang terbaik bagi masyarakat sekitar, terutama dampak negatifnya.”

” Kita perkecil dampak negatif adanya kerusakan lingkungan, dan adanya konflik supaya diatasi bersama, baik dengan unsur daerah Babinsa, Koramil, Polsek, Kades dan masyarakat sekitarnya, agar ikut mengawal proyek tersebut supaya berjalan aman dan sukses serta memberi kemanfaatan bersama,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, pihak KCIC yang diwakili juga oleh Prasojo, memberikan kesempatan sesi tanya jawab kepada audiens. Salah satu warga Rancaekek mengutarakan,” kami masih bingung untuk memberikan masukan kepada pihak KCIC. Kami tidak paham dampak positif dan negatifnya, sebaiknya kami menerima dulu informasi tentang dampak positif dan negatif secara rinci, agar bisa kami kaji dan pahami plus minusnya, sehingga kami bisa memberikan masukan atau keberatan-keberatan kepada pihak KCIC,” ujarnya.

Senada, Ketua RW 18 Desa Cileunyi Wetan menambahkan,” saya minta solusi dari dampak  ekonomi dan sosialnya, karena masih banyak warga yang mata pencahariannya sebagai seorang petani. Tentu akan terjadi perubahan yang drastis, karena wilayah kami hampir 90% lahannya terkena proyek TOD. Mohon kiranya pihak KCIC bisa mensosialisasikan dari sekarang,” pintanya, yang dilanjut dengan pernyataan warga (Cecep),” musim hujan sudah turun, tapi air ngga nyampai ke sawah. Apakah ini akibat serapan dari biopori KCIC? Jangan sampai merugikan petani,” tandasnya.

Menanggapi keluhan dan masukan dari masyarakat, Yana (Konsultan KCIC) memaparkan,” semua aspirasi kita tampung dan akan dicarikan solusi yang tepat. Dalam perencanaan AMDAL, semua aspek kita kaji, sehingga proyek pemerintah ini bisa berjalan lancar, sukses dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat, khususnya yang langsung terkena dampaknya,” sambungnya.

” Kita akan sosialisasikan ini secara lebih intens, dan saya harapkan semua stakeholder bisa mendukung proyek ini. Kalaupun ada permasalahan-permasalahan, hendaknya dibicarakan, dan saya siap selalu untuk mendiskusikan sekaligus mencari solusi yang terbaik,” pungkasnya. (Budi)