RRI Bukittinggi Peringati Hari Jadi Ke 74 & 6 Tahun Sebagai Radio Bela Negara

JayantaraNews.com, Bukittinggi

Keluarga besar LPP RRI Bukittinggi hari ini, Selasa (14/1), memperingati hari jadinya yang ke 74 dan 6 tahun sebagai Radio Bela Negara atau setelah dikukuhkan pada 7 Desember tahun 2013 lalu, melalui keputusan Direktur Utama LPP RRI.

Berdasarkan fakta sejarah dan peranannya dalam memperjuangkan kedaulatan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka pada tahun 2013 itu secara resmi RRI Bukittinggi menjadi Radio Bela Negara, yang prasastinya ditandatangani oleh Direktur Utama LPP RRI pada masa itu Rosarita Niken Widiastuti, Wali Kota Bukittinggi Ismet Amzis, serta Bupati Lima Puluh Kota Alis Marajo.

Peringatan hari jadi RRI Bukittinggi ke 74 yang jatuh pada 14 Januari 2020 ini, ditandai dengan upacara bendera di dalam Auditorium Loetan Soetan Toenaro karena cuaca hujan, dilanjutkan dengan serangkaian perlombaan antar angkasawan-angkasawati yang berlangsung sangat meriah, diantaranya; lomba berebut kursi sambil berjoget yang diiringi lagu, tiup balon, kata berangkai, dan joget balon, yang ditutup dengan syukuran makan bersama.

Kepala Stasiun RRI Bukittinggi Nenny Afrantiny mengatakan, Hari Radio atau ulang tahun RRI secara resmi diperingati setiap tanggal 11 September, khusus RRI Bukittinggi juga ada peringatan hari jadinya yang jatuh setiap tanggal 14 Januari, sejak didirikan pada 14 Januari 1946 lalu atau 74 tahun sudah usianya saat sekarang ini.

“ Momen itu sangat bersejarah dan sarat akan makna, karena 74 tahun silam adalah awal berkumandangnya siaran Radio Republik Indonesia Bukittinggi, dan perannya sangat vital, karena ikut menginformasikan keberadaan Republik Indonesia yang masih ada pasca kemerdekaan ke seluruh pelosok hingga siarannya didengar ke mancanegara,” terangnya, Selasa (14/1/2020).

Memaknai hari jadi ke 74, tutur Nenny Afrantiny, merupakan hal yang sangat luar biasa, karena dari 100 lebih stasiun RRI sekarang, tidak banyak stasiun yang ikut berperan pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dan RRI Bukittinggi menjadi salah satu stasiun diantaranya.

Menurut Nenny Afrantiny, memaknai hari jadi RRI Bukittinggi itu, disamping dengan cara mensyukuri, juga melanjutkan perjuangan dari tokoh RRI di masa lalu, dan kita hendaknya lebih baik lagi kedepannya dengan memaksimalkan tugas pokok masing-masing.

“ Suasana penuh kesederhanaan pada peringatan HUT kali ini, menjadi refleksi terhadap apa yang telah diberikan kepada lembaga. Merenungi kembali apa-apa yang telah dilakukan selama satu tahun terakhir, serta mencoba mengambil pelajaran dari masa lalu itu untuk  pembelajaran, yang dapat  dijadikan pemacu semangat untuk menapak di masa mendatang,” sebutnya.

Dialog di Nagari Koto Tinggi Kabupaten Limapuluh Kota

Dalam rangka memperingati hari jadi RRI Bukittinggi yang ke 74 tahun tidak digelar acara yang terlalu gebyar, namun lebih pada acara yang mengena di hati masyarakat, yakni dengan menggelar dialog di Nagari atau Desa Adat Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten Limapuluh Kota, Senin (13/1/2020).

Kepala Stasiun RRI Bukittinggi Nenny Afrantiny menyebutkan, dipilihnya Nagari Koto Tinggi sebagai lokasi dialog, karena keberadaannya sangat erat sekali antara RRI dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang terjadi di daerah ini pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), dan di lokasi ini juga ada Tugu PDRI yang menandakan disini merupakan lokasi bersejarah dalam mempertahankan kemerdekaan dahulunya.

“ Dipilihnya tema “Peran Media Dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Masyarakat”, karena RRI sebagai media publik pemersatu bangsa, memiliki peranan yang sangat penting untuk menyampaikan informasi, sehingga masyarakat dapat menerima segala bentuk informasi yang dibutuhkan,” terangnya.

Pada usia yang ke 74 ini, masih ada masyarakat di Nagari Koto Tinggi ini yang belum mendengar siaran RRI, hal itu sangat disayangkan sebut Nenny Afrantiny, namun demikian kita akan berjuang untuk mendirikan pemancar relay di sini, sehingga siaran RRI Bukittinggi dapat didengarkan masyarakat.

Kedepan sambung Nenny Afrantiny, RRI Bukittinggi akan mengupayakan pengadaan pemancar relay itu, dengan mengusulkan pada Dewas dan Direksi di tingkat pusat, dan upaya itu sebelumnya sudah mendapat dukungan penuh dari masyarakat di Nagari Koto Tinggi ini, terbukti dengan kesediaan tokoh masyarakat yang menghibahkan tanahnya untuk mendirikan pemancar tersebut. (Rudi)