Populasi Hewan Ternak (Kerbau & Kuda) Menurun, Ini Penjelasan Disnakkeswan Sumbawa:

JayantaraNews.com, Sumbawa 

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Kab Sumbawa H Junaidi, ST mengungkapkan, bahwa tahun 2020 ini terjadi perubahan pola perilaku peternak di Sumbawa yang menyebabkan populasi hewan ternak, seperti kerbau dan kuda mengalami penurunan. ” Namun yang mengalami peningkatan cukup signifikan itu di Sapi Bali,” ujarnya saat ditemui JayantaraNews.com di ruang kerjanya, Kamis (27/2).

Kendati demikian, ternak jenis hewan kerbau dan kuda cenderung menurun. Penurunan populasi kedua hewan tersebut disebabkan ada pergeseran pola perilaku masyarakat kita, kata Haji Junaidi.

Untuk diketahui, bahwa populasi hewan ternak kerbau tahun 2019 yang diregistrasi, antara lain; yakni 35.983 ekor Sapi Bali, 242.796 ekor Sapi Sumbawa, 14.498 ekor Kuda Sumbawa 18.582 ekor dan Kambing 33.963 ekor.

Selanjutnya ia menjelaskan, bahwa perubahan perilaku peternak, disebabkan antara lain masa kebuntingan kerbau lebih panjang dibandingkan sapi. Dan secara umum kerbau Sumbawa merupakan kerbau lumpur, sehingga musti selalu berada di sekitar air.

Selain itu, Lar yang dimiliki oleh masyarakat nyaris habis dan tertinggal Lar yang dikuasai oleh pemerintah. Sehingga populasi kerbau serta kuda mengalami kesulitan berkembang biak. “ Sementara kita lihat tren sekarang ini, Lar itu nyaris yang dikuasai pemerintah saja. Sedangkan kalau milik masyarakat sudah hampir tidak ada, sehingga kerbau itu tidak bisa berkembang biak dengan baik, sesuai habitatnya,” ungkapnya.

Menurutnya, peningkatan populasi Sapi Bali antara lain disebabkan, tahun sebelumnya pemerintah pusat meluncurkan program Sapi Induk Wajib Bunting (Siwab), termasuk Inseminasi buatan. kata Haji Junaidi,” dari Siwab itu ada Siwab ada sistem inseminasi buatan, ada juga menggunakan sistem kawin alam. Jika memang peternak mengikat ternaknya dan bisa memantau birahi dari ternak, tinggal telepon saja. Karena semua kecamatan sudah punya petugas untuk inseminasi buatan. Ini dibiayai, sampai dengan pemeriksaan kebuntingan, pertolongan kelahiran,” pungkasnya.

Tahun 2020 ini, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, masih menunggu hasil rakornas beberapa waktu untuk kelanjutan program Siwab. “ Tahun ini masih kita menunggu tapi dengan belum adanya informasi ini, mudah-mudah akhir bulan ini karena baru saja kami usai rakornas. Tapi kami tidak surut, tetap straw semen beku itu sudah kami adakan awal Januari kemarin, dan sekarang sudah berjalan,” tutupnya. (dhy JN)