Angin Segar Di Tengah Covid-19, Dinsos Sumbawa Dapat Bantuan Awal 50 Rutilahu, Kini Bertambah 150

Dinas Sosial Kabupaten Sumbawa (Kabid Linjamsos) Mirajuddin, ST

JayantaraNews.com, Sumbawa 

Dampak merebaknya Covid-19, hampir terjadi di seluruh pelosok negeri ini. Namun di tengah-tengah mewabahnya Covid-19, ada sebagian wilayah yang mendapat kucuran anggaran untuk membantu masyarakat. Contoh saat ini, yakni adanya angin segar bagi Dinas Sosial Kabupaten Sumbawa, karena ada tambahan bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) pada tahun 2020 ini. Awal bantuan tersebut, Dinsos mendapatkan hanya 50 Rutilahu, dan saat ini ada tambahan kembali sebanyak 150 Rutilahu, sehingga menjadi 200 Rutilahu.

Saat ditemui JayantaraNews.com, pada Rabu (1/4), Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sumbawa Ir Ahmad Yani melalui Kabid Linjamsos, Mirajuddin, ST mengatakan, bahwa Program Rehabilitasi Sosial Rutilahu ini rutin setiap tahun. Rutilahu sebanyak itu tersebar di lima kecamatan, yakni; Kecamatan Moyo Hilir sebanyak 50 unit, Kecamatan Lape mendapatkan 50 unit, Kecamatan Lopok memperoleh 50 unit, sementara Kecamatan Utan 40 unit dan Kecamatan Alas 50 unit, ujarnya.

” Untuk pembangunan Rutilahu tersebut, dianggarkan masing-masing Rp 15 juta. Penerima bantuan harus masuk di basis data terpadu (BDT). Jika ada biaya melebihi Rp 15 juta, ditanggung secara swadaya oleh penerima manfaat. “ Inilah tujuannya dibentuk kelompok, agar pengerjaan Rutilahu itu dilakukan secara bergotong royong,” ungkap Raju sapaan akrabnya.

Selanjutnya ia menerangkan, bahwa anggaran perbaikan Rutilahu tersebut, merupakan bantuan dana hibah e-Bansos. Nilai anggaran tersebut, tahun ini pemerintah pusat awal menggelontorkan 50 unit dan Kemensos kembali memberikan kabar baik dengan menambahkan bantuan rumah Rutilahu sebanyak 150, jadi total secara keseluruhan sebanyak 200 Rutilahu, karena pada tahun 2019, Rs – Rutilahu yang mendapat bantuan hanya 150 unit.

Pihaknya terus melakukan upaya sosialisasi, agar masyarakat mengetahui jumlah bantuan yang diterima termasuk tentang proses penyalurannya. “ Bantuan untuk Rutilahu tidak dalam bentuk uang tunai. Jadi bisa berupa material bahan bangunan,” terangnya.

Kemudian penerima bantuan juga harus memiliki persyaratan, seperti lahan punya sendiri dan bangunannya non-permanen. Perbaikan Rs – Rutilahu merupakan salah satu program prioritas dalam meningkatkan derajat masyarakat, ungkapnya.

Lebih jauh ia menuturkan, bahwa Rehabilitasi Sosial Rutilahu, adalah proses mengembalikan ke berfungsi sosial fakir miskin melalui upaya memperbaiki kondisi Rutilahu, baik sebagian maupun seluruhnya yang dilakukan secara gotong royong, agar tercipta kondisi rumah yang layak sebagai tempat tinggal.

Kegiatan tersebut, menurutnya, bertujuan untuk membantu masyarakat dalam mencapai standar hidup yang layak terutama dalam pemenuhan kebutuhan papan (perumahan).

Untuk diketahui, bahwa proses Rehabilitasi Rutilahu dan sarana prasarana lingkungan sudah diatur dengan Peraturan Menteri Sosial No 20 Tahun 2017 tentang Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni dan Sarana Prasarana Lingkungan (Permensos Rutilahu dan Sarling), pungkasnya. (Dhy JN)