Curhatan RW Untuk Gubernur Jabar Dimana Wae Ayana

JayantaraNews.com, Kota Bandung

Adanya statement Gubernur Jawa Barat HM Ridwan Kamil melalui beberapa media, baik Online, Cetak maupun Televisi, memang sempat viral di khalayak publik. Utamanya terkait masalah Bantuan Gubernur (BanGub) untuk masyarakat terdampak Pandemi Covid-19 di Jawa Barat.

Namun lagi-lagi muncul pro-kontra, menyusul tidak meratanya dalam pembagian bantuan tersebut. Bukan hanya perangkat desa atau kelurahan saja, bahkan lingkup kepengurusan di jajaran Rukun Tetangga (RT) dan juga Rukun Warga (RW) pun mengalami dampak sosialnya, yang secara tidak langsung berimbas pada sorotan jelek dari masyarakat wilayah sekitar.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh salah seorang pengurus ke-RW-an di Kota Bandung, seperti yang terungkap di status akun Facebook-nya.

Dalam akun Facebook atas nama Haji Puji, di situ diungkapkan terkait kebijakan Gubernur yang seakan jadi gunjingan publik terkait pendataan warga penerima bantuan.

Begini keluhannya:

Mohon kepada Gubernur Jabar, agar tidak menggembargemborkan soal bantuan gubernur (BanGub). Ini bukan masa kampanye, kami tak butuh janji-janji manis. Langsung saja realisasikan, dan kami akan sangat berterimakasih

” Yang Bapak Ridwan Kamil umumkan melalui berbagai media soal bantuan, bukannya membuat tenang warga, tapi justru membuat gaduh.”

” Kami selaku RW bingung menjelaskan kepada warga. Barusan, Rabu (22/4), saya dipanggil dan menerima data yang bakal dapat bantuan. Betapa kagetnya kami para RW, dimana dalam satu kelurahan, namun hanya beberapa orang yang ada di daftar bantuan dari Bapak Gubernur, sementara di RW saya pun hanya beberapa orang saja.”

Lagi pula, judulnya dampak Covid-19, tapi yang dipakai data kemiskinan yang entah dari mana sumbernya. ” Kalau memang pemerintah tidak percaya sama data yang disetorkan RT/RW, silahkan urus sendiri semuanya, jangan libatkan RT/RW untuk ngedata dan distribusinya.”

Kami sangat menghargai niat baik Bapak Gubernur untuk membantu seluruh warga Jabar. Tapi sekali lagi, tolong jangan digembargemborkan dulu. Kami butuh ketenangan, dan bukan janji-janji yang membuat gaduh masyarakat.

Saat dihubungi JayantaraNews.com, pada Kamis (23/4), si pemilik akun Facebook (Haji Puji) membenarkan,” Betul, Pak. Di warga kami yang mendapat bantuan hanya beberapa orang saja. Yang pasti tidak merata dan entah ngambil data dari mana. Ini jadi polemik di warga kami, Pak,” katanya.

Haji Puji mengungkapkan,” Kami selaku pengurus sangat prihatin. Dimana ketika ada yang kemalingan, kebanjiran, kehilangan, ada yang berkelahi, ada yang menikah, termasuk ada yang meninggal pun pasti lapor RT/RW. Namun giliran mewabahnya Covid-19, Pemerintah berjanji manis di televisi, dan menyuruh semua warga didata oleh RT/RW. Jangan ada yang tertinggal, hingga semuanya ngantre mendaftar ke RT/RW wilayah setempat.”

” Rasa kantuk dan lelah dalam memasukan data warga sudah tidak dirasakan. Semua dilakukan demi kebahagiaan dan ketenteraman warga. Namun ketika janji manis para pemimpin jauh panggang dari pada api, untaian harapan semua warga masyarakat hilang sudah, yang tinggal hanya kekecewaan,” urai Puji.

Dikeluhkan Puji,” Saatnya RT/RW jadi makian warga, saatnya RT/RW jadi tudingan waga, saatnya RT/RW jadi fitnahan warga,” sesal Puji.

” Kalaulah kerja RT/RW tidak disertai ketulusan, kalaulah kerja RT/RW tidak disertai kecintaan, mungkin lebih baik menanggalkan jabatan, dari pada didera cacian warga, Pak,” ujar Puji lagi.

” Pernah suatu ketika warga bertanya, berapa sih gaji RT/RW, sehingga bebannya begitu berat?, saya jawab, tanyakan pada rumput yang bergoyang,” sebutnya.

Melalui Media Online JayantaraNews.com, Haji Puji pun berharap, agar Pemerintah mendengar segala keluhannya.

” Lewat tulisan ini, RT/RW hanya memohon, tolong jangan banyak berjanji apabila tidak ada bukti. Tolong jangan banyak cakap manis di televisi, kalau akhirnya rakyat tersakiti. Lebih baik sedikit bicara tapi banyak kerja, dari pada terus berbicara ngga ada apa-apanya.”

Ingat! data rakyat bukan alat komoditi politik. Ingat! kesusahan warga jangan jadi alat pencitraan pribadi.

” Biarkan warga kami yang sudah nyaman jangan diusik dengan janji-janji. Biarkan warga kami yang sudah biasa hidup
dengan berbagai ujian, jangan ditambah lagi dengan iming-iming yang tak pasti. Janganlah kecewakan warga kami dengan berbagai kebijakan, ditambah lagi dengan kekecewaan yang lain. Warga kami tidak banyak menuntut, asal para pemimpin jangan banyak menebar janji….”

” Salam hormat dari RT/RW untuk Gubernur Jabar, dimana wae Ayana,” tutup Puji. (Tim)