Intelijen Investigasi Aliansi Indonesia Ungkap Pabrik Tahu Subang, Dicurigai Gunakan Formalin!

JayantaraNews.com, Subang  

Menindaklanjuti Instruksi Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo pada saat melantik Kabinet Kerja, yang mengajak seluruh Pejabat Tinggi Negara, Pemerintah, TNI, Polri, Pengusaha dan masyarakat untuk Cegah & Stop Pungutan Liar (Pungli), Korupsi, Kolusi, Nepotisme, Terorisme dan Narkoba, untuk;
a). Menyelamatkan Aset Negara, b). Menegakkan Kebenaran dan Keadilan, dan
c). Menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia

Maka untuk itu, Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) sebagai Lembaga Sosial Kontrol, senatiasa akan terus mencermati, menyikapi dan mengawal Instruksi Presiden RI tersebut.

Gambar Ilustrasi

Salah satu pabrik tahu yang berada di daerah Subang Jawa Barat, diduga telah melanggar ketentuan perundang-undangan.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, berdasarkan Undang-Undang RI tentang Pangan, sebagai berikut:

1. Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Pasal 67, berbunyi: “Keamanan Pangan dari cemaran bahan berbahaya yang merugikan kesehatan.”

2. Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

3. Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

4. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen

5. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi

6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 472/Menkes/Per/V/ 2010 tentang Pengamanan Bahan Berbahaya Bagi Kesehatan

7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor :239/Menkes/Per/V/1985 tentang Zat Warna Tertentu yang dinyatakan sebagai Bahan Berbahaya

8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 722/Menkes/Per/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan

9. Peraturan Menteri Perindustrian RINomor : 75/M-IND/PER/7/2010 tentang Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan Yang Baik

10. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor 11 Tahun 2014 tentang Tata Cara Sertifikat Cara Produksi Pangan Olahan Yang Baik

11. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor 27 Tahun 2017 tentang Pendaftaran Pangan Olahan.

Ket. foto: formalin yang digunakan

Tim Intelijen Investigasi Aliansi Indonesia menemukan beberapa dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh PT. Restu Jaya yang memproduksi tahu jenis Sutra, yang dapat mengakibatkan kerugian kesehatan pada masyarakat konsumen dan lingkungan. Adapun bahan yang kami curigai kepada pihak PT tersebut, adalah:

1. Diduga melakukan campuran bahan berbahaya jenis “Formalin” tanpa ada assistensi referensi yang terukur,

2. Diduga mencampurkan bahan berbahaya jenis “Rhodamin B” di kalangan industri tahu dikenal dengan “Choko” (bahan dasar pembuatan Gipsum) untuk mengeraskan tahu,

3. Diduga mencampurkan bahan berbahaya jenis “Kuning Metanil” untuk menghasilkan warna tahu yang bagus terkesan tahu segar,

4. Diduga mencampurkan bahan berbahaya jenis “Asam Salisilat dan Garamnya” atau biasa dikenal Biang Cuka agar tahu menjadi lebih bagus,

5. Diduga, dalam kegiatan Industri Rumah Tangga (IRT) pembuatan tahu tersebut belum memiliki Izin Industri Rumah Tangga Pembuatan Pengolahan Bahan Pangan dari instansi terkait, dan tempat pabrik tidak higienis/kotor/kumuh tidak sesuai ketentuan Standar Industri Rumah Tangga Makanan Olahan.

Dugaan penyimpangan dan pelanggaran tersebut, dapat mengakibatkan kerugian kesehatan bagi masyarakat yang mengkonsumsi tahu hasil buatan pabrik tahu milik PT. Restu Jaya.

“Harus dihentikan! karena membahayakan masyarakat apabila mengkonsumsi tahu tersebut,” utur Aris Witono, selaku Kepala Departemen Intelijen Investigasi Aliansi Indonesia. (Tim)