Fenomena Gunung Es ‘Pemotongan BST’ Baranangsiang KBB, Arlon & Ais: Diduga Kades Bermain..!

JayantaraNews.com, KBB

Pantauan Tim JayantaraNews.com, hingga Kamis, 23 Juli 2020, terkait heboh ‘fenomena gunung es’ bersumberkan pengakuan Ibu Dede (44) warga yang diperkuat suaminya Budi Hidayat, keduanya warga Kampung Lebak Lisung, RT 5 RW 6, Desa Baranangsiang, Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Baca berita terkait;
– Ungkap Misteri Bansos COVID di Cipongkor KBB Berbuntut Ancaman Pembunuhan, Ais Lapor ke POLDA Jabar – https://www.jayantaranews.com/2020/06/58217/

– Warga Baranangsiang Cipongkor KBB, Angkat Suara: Ada MISTERI Bantuan Covid-19!!! – https://www.jayantaranews.com/2020/06/58003/

– Ais, Warga Cipongkor KBB Yang Heboh Mau Dihabisi Coba Temui Ridwan Kamil: Prosedurnya, Duh Alabatan..! – https://www.jayantaranews.com/2020/07/59880/

Kisahnya, jatah dana BST (Bantuan Sosial Tunai) dari Kemensos pada 15 Juli 2020, yang seharusnya diterima utuh Rp.1,8 juta untuk 3 bulan, eh oh eh malah hanya menerima Rp.600 ribu.

Ironisnya, yang memotong dana itu sepulang dari Kantor Pos di Sindangkerta, tak lain oknum desa, kata Dede sambil terbata-bata yang dibalas senyum getir suaminya.

Mimik getir ini tergambar jelas dari video testimoni yang sudah beredar luas di kalangan Jurnalis Bandung dan Jawa Barat, lalu bocor di kalangan tertentu.  

Arlon Sinambela, Aktivis ’98 Jabar

”Ini mah ibarat gunung es, Kang. Hampir semua Kepala Desa (Kades) di KBB, malah di Jawa Barat seperti inilah adanya. Mereka main sunat dana bantuan, Kades bermain …!” papar Arlon Sinambela yang dikenal selaku Aktivis ’98 Jabar ketika dimintai komentarnya.

Munculnya statement Arlon Sinambela ini bak gayung bersambut. Pada Kamis pagi (23/7/2020) itu nyaris sepenuhnya dibenarkan Asep Imam Supratman alias Ais (27) warga Baranangsiang, Cipongkor, KBB, yang nekad pernah mempertanyakan transparansi penyaluran bantuan sosial ini ke pihak desa setempat, yang hingga kini Ais dilindungi di antaranya oleh LSM PMPRI dan LSM Penjara. Mau tahu coba, apa tuh jawabannya?

Bak drakor (drama Korea) jadinya, Ais sejak 9 Juni 2020 dengan sangat terpaksa katanya melaporkan ancaman atas keselamatan dirinya dari oknum RT di wilayahnya ke Polda Jabar (TBL No. LP/B/692/VI/2020/ Jabar), dan baru awal Juli 2020 ini perkaranya dilimpahkan ke Polres Cimahi.

“Kepada siapa lagi melaporkan ancaman yang katanya mau menghabisi nyawaku yang satu-satunya ini, gegara tanya transparansi? Ya, ke Pak Polisi dan aparat lainnya kini tempatku berlindung. Heran we, pokoknya, kenapa ke Ais jadi sasaran oknum dugaan pelindung penyunat dana bansos di daerah saya? Mohon saja APH (aparat penegak hukum) bisa menguak tabir ini hingga tuntas,” seru Ais dengan suara serak-serak berserak akibat dirinya sejak kemarin banyak ditanyai orang oleh pertanyaan khas yang berulang-ulang  –“Kumaha eta, Ais nyawanya yang cuman satu-satunya itu apa masih salamet? Apa ia lolos dari ancaman yang akan menghabisi nyawanya itu?      

– Nasib Konfirmasi, Kumaha? –

Rasa amit-amit redaksi takut pemberitaan ini dianggap fitnah, yang katanya lebih keji dari pembunuhan, ini terkait dugaan ‘fenomena gunung es’ adanya penyunatan Bansos di era Covid-19, khususnya di area KBB Jabar, redaksi pada Rabu sore (22/7/2020) cukup detail melalui WhatsApp memohon agar ada tanggapan dari Kepala Desa Baranangsiang, Cipongkor KBB, termasuk dari Bupati KBB sendiri. Alhamdulillah, konfirmasi redaksi dibaca, namun sayang sejuta sayang seperti biasa tak berjawab.

Redaksi dan pembaca di JayantaraNews.com banyak yang menitip tanya ke oknum penguasa, kena apa Sekretaris Desa Baranangsiang, IS malah membenarkan jika pihak desa melakukan pemotongan bantuan kepada warga. Dalihnya, itu sesuai kesepakatan karena akan dibagikan kepada warga yang tidak mendapat bantuan. “Mereka juga menandatangani surat pernyataan,” kata IS.

Lebih lanjut, malah ada 24 warga yang bantuannya dipotong pihak desa. Besarannya beda-beda berdasarkan kesanggupan dan keikhlasan – ada yang dipotong Rp.1 juta dan Rp.1,2 juta.   

Sebelum menutup secuil reportase ini, Tim JayantaraNews.com pada Rabu sore (22/7/2020) kembali rasa hatinya agak berbinar-binar alias bungah. Apa pasal? Terbersit kabar, Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Satreskrim Polres Cimahi sudah turun gunung melakukan pemeriksaan dugaan pemotongan BST di Kabupaten Bandung Barat. Malahan Kanit Tipikor Satreskrim Polres Cimahi Iptu Herman Saputra, sempat menyambangi rumah Ibu Dede di Kampung Lebak Lisung Desa Baranangsiang pada Rabu sore.

“Ini yang ditunggu-tunggu, kaum APH di KBB menapak tanah, tanpa pandang bulu menyidik patgulipat dugaan kasus Bansos Covid-19 ini hingga tuntas. Jangan bikin peti es, ya?!” tutup Arlon Sinambela yang diiyakan oleh Banu dari Padalarang. 

Tak kurang, beberapa anggota Tim JayantaraNews.com seperti Empeh, Tiolibaco, dan Han Han, Widodo langsung ambil posisi layaknya orang berdoa yang khusyuk menanggapi berita samar-samar turunnya APH ke Cipongkor KBB sembari koor – “Duh, kejadian nih, penegakkan hukum ada di Cipongkor yang banyak dilupakan orang selama ini, seperti terra incognita.”  

Terra incognita teh naon Kang? Naha eta sapertos kueh ali agrem atanapi sapertos wajit Cililin anu sohor tea? Di luar garing, eh dilebetna baseuh ? (Tim JN)