Warga Ipuh Mandiangin Dihebohkan Video Rekaman ‘Timses RaSYa’ Yang Diduga Ancam Warga

Foto: Labay (kiri) didampingi H. Jon, Ketua Pemuda Ipuh Mandiangin

JayantaraNews.com, Bukittinggi

Warga Ipuh Mandiangin, Kecamatan MKS, Kota Bukittinggi merasa ketakutan dalam beberapa hari lalu. Pasalnya, viralnya video rekaman berdurasi 2 menit 41 detik itu, yang diduga dilakukan oleh Tim Sukses Paslon nomor urut 1: “RaSya”. Dalam adegan tersebut, warga didatangi sekelompok orang berpakaian seragam RaSya (Ramlan Nurmatias – Syahrizal), yang mengunjungi tiap rumah untuk meminta Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK), dengan mengatasnamakan kelurahan.

Menyikapi hal itu, H. Jon, selaku Ketua Pemuda Ipuh Mandiangin dalam Laporan Persnya kepada beberapa orang wartawan mengatakan, bahwa beberapa orang berseragam RaSya meminta KTP dan KK dengan datang ke rumah warga dan mengatasnamakan kelurahan itu telah membuat keresahan. “Pasalnya, jika mengatasnamakan kelurahan meminta KTP dan KK, biasanya didampingi RT. Kesannya saat ini, mereka itu pandai-pandainya saja. Mereka yang terdiri dari Kader Posyandu, Lansia, dan dasawisma langsung saja datang ke warga. Seharusnya tidak demikian, harus lapor dan didampingi pihak RT,” ucapnya.
  
Jon menambahkan, seseorang telah merekam video kejadian antara warga dengan orang-orang berseragam RaSya yang ditengarai meminta KTP dan KK, yang sekarang videonya telah beredar luas di media sosial. “Dalam adegan tersebut, terjadinya keributan dengan warga, yang isinya sama-sama mengutarakan nada ancamam, dan sama-sama akan saling melaporkan,” ucapnya.

Hasil pantauan awak media di lapangan, dan info yang dihimpun dari salah seorang warga, Dafrawira Tengku Labay (48), di rumahnya di kawasan Ipuh Mandiangin, pada Sabtu (17/10/2020) yang mendapat perlakuan langsung dari orang berseragam yang mengatakan: “Awas kamu anggota KUBE”.

Imbasnya, akibat tidak memberikan KTP dan KK, warga merasa dibayang-bayangi ketakutan, dan beranggapan bahwa bahasa tersebut sebuah ancamam bagi dirinya. “Bahasa tersebut sebagai ancaman bagi saya, takutnya saya dikeluarkan dari anggota KUBE, sehingga bakal tidak mendapat bantuan beras dan bantuan lainnya,” sebut Labay.

Menurut Labay, orang berseragam RaSya tersebut saat meminta KTP dan KK mengatasnamakan kelurahan. “Mereka mengatasnamakan kelurahan. Tetapi pakaiannya berupa seragam Tim dari RaSya (Ramlan Nurmatias – Syahrizal), sehingga tidak saya berikan. Dan ketika orang berseragam RaSya yang berjumlah 6 (enam) orang tersebut meminta KTP dan KK mengatasnamakan kelurahan, saya sempat mempertanyakan, untuk apa kelurahan meminta KTP dan KK ? dan mereka jawab: “KTP dan KK perlu, karena orang lurah yang meminta,” kata Labay menirukan kalimat dari Tim RaSya itu.

Lantaran tidak mau memberikan KTP dan KK, anggota Timses RaSya yang lain mengatakan: “Bapak anggota KUBE, kan ?” seraya menyuruh rekannya untuk mengambil foto. “Secara langsung, dia (orang berseragam RaSya-red) tidak mengatakan mengeluarkan saya dari anggota KUBE, cuma bahasa ‘awas Pak anggota KUBE’, saya terasa terancam keluar dari anggota KUBE, dan tidak mendapatkan baras ataupun bantuan segala macamnya,” sebutnya.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi kepada Tim RaSya (Yen), yang juga mantan RT, dipertanyakan terkait salah satu dari mereka yang berseragam RaSya meminta KTP dan KK kepada warga di Ipuh Mandiangin, ia membantah. “Tidak benar meminta KTP dan KK mengatasnamakan kelurahan. Saya memang Tim RaSya, yaitu status sebagai Korlap. Meminta KTP dan KK hanya sifatnya memetakan berapa orang yang memilih di satu rumah. Apabila warga itu mendukung kita, maka kita minta KK nya, dan apabila tidak, kita tidak memaksa. Namun saya tidak mengatasnamakan  sebagai kader (Posyandu, Lansia dan dasawisma-red),” ujarnya.

Yen menambahkan, tuduhan yang dialamatkan kepada mereka meminta KTP dan KK mengatasnamakan kelurahan, itu salah dan keliru. Hadirnya sebagai Tim RaSya waktu meminta KTP dan KK, memang sebagai Tim RaSya kelurahan, ucapnya.

“Tim RaSya itu kan ada dari kelurahan dan kecamatan. Saya memang Tim RaSya atas nama kelurahan,” ucapnya, yang juga membantah tidak benar mengintimidasi dan mengancam warga yang tidak memberikan KTP dan KK, dan jika tidak menyampaikan hak memilih di Pilkada akan dikeluarkan dari anggota KUBE.

Ia mengakui telah melihat video yang beredar di media sosial antara keributan dirinya bersama dengan warga di Ipuh Mandiangin tersebut. “Saya sudah melihat video tersebut di media sosial. Itu saya yang terlibat keributan dan dengan si perekam,” katanya.

Sementara itu, Pengamat Politik dan Aktivis LSM di Bukittinggi, Young Heppy ketika ditemui para wartawan menanggapi adanya oknum kader yang diduga telah mengancam warga itu, mengatakan, “Harusnya hal tersebut tidak terjadi. Kita sudah mendengar beberapa hari yang lalu dan melihat video rekaman warga tersebut, dimana adanya anggota PKH (KUBE-red) yang diintimidasi untuk memilih pasangan calon tertentu. Kalau tidak memilih katakanlah si calon A, itu nanti PKH nya akan dipindahkan ke orang lain. Masyarakat awam yag tidak tahu akan menjadi terpengaruh,” ujarnya.

Young Happy mengimbau kepada masyarakat, “Kalau ada yang mendapatkan intimidasi seperti itu, supaya tidak usah didengarkan. Karena PKH tersebut urusannya langsung dari pemerintah pusat, tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintah daerah.”

“Kita mewanti-wanti, kalau memang ada dari kader yang melakukan hal seperti itu, hati-hati, karena bisa dipidana Pilkada, yakni UU Pilkada No.10 Tahun 2016 Pasal 182 A, termasuk pelanggaran pidana. Artinya, biarkan masyarakat memilih calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bukittinggi menurut hati mereka sendiri,” tandasnya. (Rudi)