Ngidam Disikat Bu Mega, Ribka Tjiptaning Terang²an Tolak Vaksin Covid

Ribka Tjiptaning

JayantaraNews.com, Jakarta

PDIP dan seluruh kader banteng sepatutnya mendukung penuh program pemerintah. Karena partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri ini adalah pendukung utama Presiden Jokowi. Namun, dalam program vaksinasi Covid-19, justru ada kader banteng yang mbalelo. Dia adalah Ribka Tjiptaning. Penulis buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI” ini, dengan tegas menolak vaksin Covid. Nah, Bu Mega, gimana ini mau didiemin saja kader begini? Atau sikat saja? Bisa juga lagi ngidam disikat Bu Mega.

Penolakan itu disampaikan Ribka dalam Rapat Kerja antara Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin alias BGS dengan Komisi IX DPR, di Komplek Parlemen, Senayan, kemarin. Saat bicara, Ribka tampak judes. Tatapannya tajam, intonasi suaranya tinggi. Dia juga terlihat sangat ngotot, sampai-sampai membuka masker.

Ribka sudah menunjukkan sikap kurang bersahabat sejak awal bicara. Senyumnya sinis. Ribka mengaku bingung kenapa Jokowi memilih BGS sebagai Menkes. Ia mempersoalkan latar belakang BGS yang bukan dokter. Dia tampak menyepelekan pilihan Jokowi. Dia lebih membanggakan dirinya yang dipilih langsung oleh ratusan ribu masyarakat.

“Yang harus Saudara Menteri ingat, Saudara dipilih oleh Presiden, ya. Tapi, kami-kami ini dipilih ratusan ribu rakyat. (Anda) dipilih oleh seorang Presiden. Hanya Jokowi yang memilih Anda,” ucapnya, sambil menunjuk-nunjuk ke arah BGS.

Di tengah ngomel-ngomel itu, Ribka juga ngerjain BGS untuk melepaskan masker. Alasannya, belum kenal wajah. “Saya belum pernah tahu muka Anda,” ucapnya. BGS tampak santai merespon permintaan itu. Sambil tersenyum, ia membuka masker putihnya sejenak, lalu mengenakannya lagi.

Setelah itu, Ribka bicara soal vaksin. Dia dengan tegas menolak vaksinasi Corona, meski saat ini dia dibolehkan divaksin. “Saya tetap tidak mau divaksin!” tampik politisi berusia 63 tahun ini.

Tak hanya bagi dirinya, Ribka juga menolak anak atau cucunya divaksin. Dia sesumbar mending membayar denda daripada divaksin. “Misalnya pun hidup di DKI, semua anak cucu saya dapat sanksi Rp5 juta. Mending gue bayar. Mau jual mobil kek,” cetusnya.

Dia beralasan, ada sejumlah vaksinasi berdampak buruk bagi kesehatan. Dia menyebut beberapa kasus, antara lain penerima vaksin polio di Sukabumi, Jawa Barat, malah mengalami lumpuh layu setelah divaksin. Lalu, vaksinasi anti kaki gajah di Majalaya, Jawa Barat, menimbulkan korban jiwa 12 orang. “Saya ingat betul itu. Jangan main-main vaksin ini, jangan main-main,” ulang Ribka, dengan tatapan tajam.

Karena itu, dia meminta pemerintah tidak melakukan pemaksaan kepada masyarakat yang menolak vaksinasi Covid-19. Menurutnya, pemaksaan vaksinasi adalah bentuk pelanggaran HAM. (ale)