H. Karya dan Ken Arok

JayantaraNews.com, Tangerang

Ketika itu pertengahan tahun 2018 silam, saya teringat sebuah percakapan antara saya dan almarhum H. Sukarya di depan teras rumah beliau di Sawah Baru, Ciputat. Sambil “nyeruput” kopi hitam kesukaannya, Bang Aji, sapaan akrabnya menanyakan berbagai aktivitas yang saya lakukan.

Saat itu, beliau baru saja pulang dari kantornya. Meskipun beliau mengaku badannya kurang sehat, tetapi karena sudah kepalang janji bertemu, akhirnya ia paksakan berjumpa dengan kami. Ternyata, hal ini tidak saja ia lakukan kepada kami semua saat itu.

“Keras kepala” beliau memang sudah menjadi ciri yang melekat pada sosoknya.

Bagi Bang Aji, kalau sudah berjanji sama orang, lanjutnya, pantang bagi dirinya untuk dibatalkan kecuali ada hal penting yang lebih urgent, ungkapnya pada kami.

Itu artinya, ketika ia sudah mengatakan “bisa”, yah mau tidak mau kata-kata itu harus ia buktikan.

Dan hal itu memang ia buktikan pada kami dan warga Tangsel pada umumnya terlebih warga Ciputat sebagai konstituennya. Kini, sosok sederhana itu telah pergi di penghujung Jumat sore (22/1), kemarin.

Kepergiannya diselimuti tangis sedih dan bahagia. Sedih karena beliau adalah sosok yang tidak lagi mudah ditemukan gantinya. Dan bahagia, karena kematian adalah sebuah awal dari kehidupan yang lebih kekal bagi beliau. 

Sejak kemarin sore hingga subuh menjelang ratusan orang melayat. Ribuan orang kehilangan sosok Bang Aji. Warga Tangsel berduka pada kepergiannya. Banyak hal yang begitu baik untuk diceritakan selama beliau hidup. Sebab, kalau gajah mati meninggalkan gadingnya, manusia mati tentu saja meninggalkan nama baiknya.

Untuk memiliki nama yang baik itu tidak bisa direkayasa.
Itu adalah rahasia Illahi yang tak sembarang orang memperolehnya. Dan itu sudah dimiliki sekarang oleh Bang Aji. H. Sukarya adalah politisi yang cukup langka. Saya bersaksi beliau adalah sosok pendengar yang cukup baik. Sekaligus tuan rumah yang ramah pada tamunya. Bahkan, tak segan jika beliau sendiri yang membuatkan kopi dan mengambil minuman bagi tamu-tamunya.

Kesederhanaan beliau, hingga kini masih teringat pada saya pribadi saat berkunjung ke rumahnya. Sosok Bang Aji bagi saya, dan juga rekan-rekan aktivis yang lain pastinya tidak asing.

Siapa yang tidak kenal beliau. Dikalangan aktivis Tangsel dan Banten, Bang Aji adalah salah satu sosok yang santer sebagai palang pintunya “ibu” (sebutan kami untuk Airin Rachmy Diany).

Siapapun yang menganggu Ibu dan Partai Golkar, harus siap-siap dipanggil atau ditelepon olehnya. Maka, ketika sudah dipanggil oleh Bang Aji, siapapun yang mau “marah” pada kebijakan pemerintah, akhirnya luluh dan “kadang berakhir bahagia”.

Karena itu banyak yang menilai bahwa Bang Aji adalah sosok yang mampu mencairkan kebuntuan politik di Tangsel karena beliau mau “mengakomodir” semua pihak. Baik kelompok yang dicap sebagai “oposisi” maupun kawan politiknya.

Kecintaanya pada partai serta loyalitasnya kepada pimpinan sungguh tidak perlu diragukan. Bahkan, Bang Aji sosok politisi yang tidak “haus jabatan”. Baginya, hidup yang bermanfaat saja sudah cukup. Tidak perlu banyak mau ini mau itu.

Kalau memang rejekinya segini, ya itu saja disyukuri. Kira-kira seperti itulah gambaran Bang Aji saat dirinya disodorkan juga sebagai calon Ketua DPRD Kota Tangsel. Sungguh kearifan politik yang luar biasa. Semua kematangan itu ia dapatkan dari pengalamannya yang panjang dalam dunia politik dan organisasi ia ceritakan panjang lebar pada kami.

Mulai dari dirinya sebagai Lurah, pengurus KNPI hingga menjadi politisi partai Golkar, tak lelah ia ceritakan kisah dan perjalanan kariernya pada kami anak-anak muda yang bertamu ke rumahnya.

Bagi saya, sosok Bang Aji, yang awalnya saya kira sama dengan kebanyakan politisi lain yang “eksklusif dan mirip OKB (orang kaya baru)” ternyata berbeda dengan apa yang ada dipikiran saya.

Bahkan, ketika saya berjumpa di rumahnya, beliau hanya memakai kaos merk “swan” berwarna putih dan bercelana training. Sungguh sosok yang apa adanya kata saya saat itu. Singkatnya, beliau adalah sosok politisi dan abang sekaligus senior yang humble dan apa adanya.

Meski intensitas saya dan beliau tidak terlalu tinggi karena kesibukan dan aktivitas kami berbeda, tetapi ada beberapa catatan penting yang selalu saya kenang dan ingat dari perjumpaan bersama beliau.

Pertama, sebagai seorang politisi Golkar, partai yang menjadi bagian dari pemerintahan di Kota Tangsel selama 10 tahun ini, kiprah Bang Aji tidak boleh dinafikan. Beliau bukanlah sosok politisi pragmatis yang “ikut sini Ok, ikut sana Ok” alias tidak memiliki pendirian. Beliau juga bukan politisi yang “main aman” ketika partai dan pimpinannya diserang.

Beliau adalah sosok yang tak lelah dan henti-hentinya untuk “membela kebijakan partai” meskipun arah angin kencang menimpa pohon beringin. Dari situlah beliau tak henti-hentinya berpesan serta mengajarkan kepada kami secara langsung arti dari sebuah loyalitas. Bagi Bang Aji, loyalitas adalah bentuk kecintaan pada apapun yang saat ini kita lakukan.

Pesan itu sengaja ia sampaikan kepada kami sebagai pengingat bahwa ketika kami memasuki dunia politik praktis nantinya, sikap loyal, rasional serta setia pada keputusan partai adalah prinsip politik yang harus dipegang.

Karena itu, ketika Tangsel mengalami gejolak terkait kasus yang sangat menyita waktu dan perhatian, Bang Aji, tetap berdiri alias tegak lurus membela partai yang sangat ia cintai tersebut.

Bang Aji adalah politisi yang rasional. Setidaknya, saat itu ia berkata kepada kami bahwa kasus yang menimpa keluarga “ibu” itu adalah kasus pribadi yang tidak bersangkut paut dengan kinerja Airin dalam konteks pemerintahan.

Kebetulan, saat itu, saya adalah pihak yang aktif mengkritisi kasus yang menimpa pimpinan beliau. Kedua, Kader partai yang harus diisi anak-anak muda. Pikiran ini memang sudah sering diwacanakan oleh para elit partai. Hanya saja sangat sedikit yang “ikhlas” merealisasikannya.

Namun, Bang Aji, adalah sosok yang mampu mewacanakan sekaligus merealisasikannya. Jika sekarang banyak anak muda di partai Golkar Tangsel, itu karena buah pikiran dan perjuangan beliau.

Saya sendiri menjadi saksi ketika  beliau “mengajak” saya bergabung sebagai kader Partai Golkar Tangsel saat itu.
Bang Aji meyakini, bahwa kedepan, anak-anak muda adalah kunci untuk membesarkan partai.

Karena itu, bagi beliau, partai Golkar “kudu” diisi dengan komposisi mayoritas anak-anak muda. Yang senior biar pelan-pelan minggir karena mulai lapuk termakan usia.

Selain memperjuangkan anak muda di struktur partai, bukti konkret lainnya bagaimana beliau menerima masukkan anak-anak muda terjadi saat kampanye 2019.

Pada masa kampanye 2019 lalu, saya dan beberapa tim pemenangan H Sukarya mengusulkan sebuah program pada beliau khusunya kampanye di kalangan milineal. Waktu itu, kami sampaikan pada beliau agar program yang ditargetkan untuk kalangan milineal jangan seperti itu-itu saja alias “jadul”.

Harus ada format baru sesuai dengan zamannya. Tanpa banyak berbantah, beliau menerima usulan kami.

Beliau pun langsung mengeksekusi ide saya tersebut. Beliau sangat demokratis menerima perbadaan. Tidak menganggap remeh siapapun. Memberikan kebebasan pada kami untuk bergerak secara leluasa.

Maka, pada 2019 lalu, saya bersama dengan teman-teman muda tim H. Sukarya, melaksanakan turnamen yang diberi nama seperti dirinya yaitu “Karya Tournament”.

Lalu, ada juga cerita yang tak boleh lupa dituliskan. Selain politisi Golkar dan Ketua Komisi II DPRD Tangsel yang “lihai” melakukan pengawasan pada anggaran, Bang Aji juga salah seorang yang menyukai sejarah, khususnya kisah tentang Ken Arok.

Kata Bang Aji, pada kesempatan lain saat kami bertamu di rumahnya. Dia sangat menyukai kisah tentang Ken Arok. Kisah Ken Arok adalah sebuah tragedi sekaligus intrik politik kerajaan di masa kerajaan Singasari.

Ken Arok rakyat biasa yang berhasil naik tahta dan merebut sebuah kerajaan sekaligus menjadi pendiri kerajaan besar Singasari. Tak cukup sampai merebut kekuasaan dari Tunggul Ametung. 

Ken Arok, bekas pengawal raja itu, juga sukses mencuri hati permaisuri bernama Ken Dedes bekas istri bos nya. Bang Aji, saat menceritakan kisah Ken Arok sangat “lihai dan paten” mengungkapkan makna tersirat dari kisah Ken Arok tersebut pada kami.

Saya sendiri saat itu, belum membaca secara sempurna kisah Ken Arok. Besoknya, saya membeli buku novel karangan Pramoedya Ananta Toer berjudul Arok Dedes yang diterbitkan Lentera hanya karena penasaran akan ceritanya.

Terus terang saja, saya mengakui bahwa wawasan beliau terhadap sejarah sungguh luar biasa. Bahkan, tanpa sengaja saya melihat di ruangan kerjanya koleksi buku Bang Aji tersusun rapih. Termasuk buku Ken Dedes karangan Pramoedya Ananta Toer terselip sebagai salah satu koleksinya.

Selain pandai memainkan perannya sebagai politisi kawakan di Golkar dan juga tokoh masyarakat, Bang Aji juga gemar membaca. Sungguh suatu kisah lain yang tentunya menarik bagi saya pribadi. Kini sosok “politisi langka” bernama H. Sukarya itu telah pergi mendahului kita semua.

Banyak cerita yang mungkin juga terselip di sana-sini yang dimiliki oleh rekan maupun keluarga yang tak terekam melalui kata. Namun, apa yang saya tuliskan ini, tentu saja hanya sedikit dari kisah atas kiprah beliau selama hidup.

Yang jelas bagi saya pribadi, H. Karya bukan saja sosok politisi Golkar dapil Ciputat. Beliau adalah politisi milik seluruh warga Tangsel.

Berkatnya lah kondisi kehidupan politik di Tangsel berjalan seimbang dan seirama dengan masifnya pembangunan. Tak ada gejolak yang tak mampu ia redam melalui tangan dinginnya. Sebab, beliau sangat mengetahui apa yang dimaui warga tangsel.

Beliau adalah sosok politisi yang lahir dari arus bawah. Besar dari kedekatannya dengan warga Ciputat yang ia cintai. Mirip dengan Ken Arok yang kisahnya sangat beliau sukai. Hanya bedanya beliau bukan Ken Arok yang haus kekuasaan dan jabatan hingga melakukan segala cara.

Meskipun kesempatan itu kerap datang, beliau memilih menjadi resi yang ingin “kembali” suci seperti embun pagi yang kerap ia jumpai selepas solat Subuh di pagi hari.

Selamat jalan bang, In Syaa Allah kami juga akan segera bertemu dengan abang sebagaimana abang yang lebih dahulu bertemu Ken Arok saat ini di surgaNya. Aamiin.

Oleh : Rudy Gani
Founder Tangsel Institute