Tuntut Keadilan, Orangtua Terdakwa (AF) Kasus Narkoba di PN Tangerang, Adukan JPU ke Jamwas Kejagung RI

JayantaraNews.com, Jabar

Merasa penanganan kasus Narkoba yang menimpa putrinya Alma Fadilah (AF) dinilai tidak adil dan serasa janggal, maka Leni Maemunah, warga Kp. Ciguruik RT/RW 005/004 Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengadukan ke Jaksa Agung Muda Pengawasan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Jamwas Kejagung RI).

Melalui Tim Elang Maut yang didampingi Media Online JayantaraNews.com, Leni Maemunah pun mulai menuturkan terkait perkara hukum yang menimpa putrinya (Alma Fadilah) yang saat ini sedang membutuhkan keadilan.

Dikatakan Leni Maemunah,  bahwa putrinya (Alma Fadilah binti Roni Septia Gunawan), umur 21 tahun, yang menjadi Terdakwa dalam perkara No. : 240/Pid.Sus/ 2021/TN Tng, saat ini sedang menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang. “Alma dihadapkan ke persidangan dengan dakwaan bernomor register PDM-57/TNG/01/2021, tertanggal 28 Januari 2021, yang ditandatangani dan ditangani oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tri Hariyatun, SH.,” tuturnya.

Baca: Penanganan Kasus Narkoba (AF) Diduga Sarat Peyimpangan! Beranikah Hakim PN Tangerang Memutus Perkara? – https://www.jayantaranews.com/2021/05/75192/

– Aneh! Soal Kasus Narkoba di PN Tangerang: AF Dituntut 7 Tahun, Pemilik Barang Kasusnya Seakan Lenyap – https://www.jayantaranews.com/2021/06/75289/

– Pertama

Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 114 ayat (2)  Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

– Ke-dua

Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 113 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. 

– Ke-tiga

Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Sebagaimana diketahui, bahwa setelah melalui proses pembuktian, dimana Jaksa Penutut Umum (JPU) berusaha mati-matian membuktikan dakwaan pertama, ke-dua dan ke-tiga, namun pada akhirnya Jaksa Penutut Umum (JPU) menuntut Alma Fadilah binti Roni Septia Gunawan hanya dakwaan Ke-tiga saja, yaitu :

Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Atas perkara tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tri Hariyatun, SH., menuntut Alma Fadilah 7 (tujuh) tahun penjara dan denda 1 (satu) milyar rupiah.  “Apa kesalahan anak kami, sehingga dituntut seberat itu?” keluh Leni Maemunah.

“Anak kami dituntut seberat itu hanya karena keluguannya mau disuruh menerima paket dari China, yang katanya berisi Narkotika. Padahal, anak kami Alma Fadilah tidak pernah melihat isi paket tersebut,” sesal Leni, sembari terisak mengusap air matanya.

Kembali kita mengupas kronologis berdasarkan Fakta di Persidangan (bukan BAP Penyidik)

Perkara ini bermula pada tanggal 18 September 2020, dimana sdr. Naufal Royan (saat ini sedang menjalani hukuman di LP Garut) koq bisa memesan Narkotika dari dalam LP ?), yakni memesan Narkotika berupa MDMB 4-en PINACA dari China. 

Kemudian pada tanggal 22 September 2020, Naufal Royan memberitahu pesanan tersebut kepada temannya yang bernama Zaenal Abidin.

Selanjutnya, pada tanggal 24 September 2020 sekitar pukul 11.00 WIB, Naufal Royan memberitahu kepada Zaenal Abidin, bahwa paket dari China sudah tiba di Bandung, di alamat yang sebelumnya mereka siapkan berdua, yaitu kontrakan di Gg. Aki Rohanda Desa Sindanglaya, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Berhubung Zaenal Abidin saat itu sedang berada di luar, sementara pembantu yang biasanya menerima paket pun tidak ada, maka Zaenal Abidin mengatakan kepada Naufal Royan, bahwa dia akan menyuruh pacarnya yang bernama Alma Fadilah, karena kebetulan Alma Fadilah sedang berada di kontrakan bersama temannya, Melly Juniarti.

Kemudian Zaenal Abidin menelepon pacarnya (Alma Fadilah) yang baru dikenalnya kurang dari 2 (dua) bulan itu, yang kemudian meminta agar jangan pergi dulu karena akan ada paket.

Awalnya Alma Fadilah menolak, karena mau pergi bersama Melly Juniarti. Akan tetapi Zaenal Abidin mendesak dan juga Naufal Royan, yang pada akhirnya Alma Fadilah bersedia menunggu paket.

– Sebagai Catatan Penting : –

Bahwa Alma Fadilah tidak tahu sama sekali tentang pesanan paket dari China itu, karena ini adalah persekongkolan antara Naufal Royan dengan Zaenal Abidin.

Alma Fadilah baru disuruh menerima paket pada hari itu, tepatnya tanggal 14 September 2020, sekitar pukul 15.00 WIB. 

Kemudian Naufal Royan mentransfer uang sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) dan dibagi antara Alma Fadilah dan Melly Juniarti, masing-masing Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)

Namun ternyata, pesanan Naufal Royan tersebut tertahan di Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta, dan diserahkan ke Polresta Bandara.

Pada tanggal 24 September 2020 sekitar pukul 09. 00 WIB, tibalah Tim dari Sat Resnarkoba  Polresta Bandara Soetta yang menyamar sebagai kurir TNT,  mengantar pesanan paket dari China tersebut. Lalu sang kurir pun menghubungi Zaenal Abidin yang nomor HP nya tertera di alamat tujuan paket.

Seperti cerita awal di atas, bahwa Zaenal Abidin meminta kepada petugas kurir yang ternyata adalah seorang Polisi, agar mengantar paket tersebut ke alamat, dan akan diterima oleh Alma Fadilah.

Akhirnya, pada pukul 16.30 WIB, petugas kurir (Polisi) tiba di kontrakan dan menyerahkan paket kepada Alma Fadilah dan Melly Juniarti.

Singkat cerita, kemudian keduanya ditangkap, tanpa pernah membuka paket dan membuktikan isinya adalah Narkotika di hadapan kedua anak tersebut (Alma Fadilah tidak pernah tahu apa sebenarnya isi paket, karena tidak pernah    diperlihatkan).

Selanjutnya Alma Fadilah dan Melly Juniarti dibawa ke kontrakan milik Iqbal, di daerah Cileunyi Kabupaten Bandung. Dimana pada saat itu, Zaenal Abidin sedang berada di sana.  Selanjutnya petugas menangkap Zaenal Abidin yang sedang mengemas Narkotika di kontrakan Iqbal dan menemukan barang bukti Narkotika. Selain itu, Petugas juga menangkap Iqbal Abdul Luthfi (bukan pemilik kost), dan didapat juga Narkotika dari padanya.

Pada saat Polisi menangkap Zaenal Abidin, di kamar tersebut ada perempuan bernama Sifa, yaitu pacar Iqbal (pemilik kost). (ada 2 orang bernama Iqbal)

Selanjutnya, Petugas Polres Bandara Soetta membawa Zaenal Abidin, Iqbal Abdul Luthfi, Alma Fadilah dan Melly Juniarti ke Polresta Bandara Soetta. 

Akan tetapi, Iqbal sebagai pemilik kost dan pacarnya (Sifa) tidak dibawa ke Polresta Bandara Soetta. Ada apa..? Padahal Iqbal adalah teman Zaenal Abidin yang berbisnis Narkotika, dan kontrakannya dijadikan tempat mengolah Narkotika. Apakah Pasal 55 KUHP sudah tidak ada lagi…?

Atas kejadian tersebut, keluarga Alma Fadilah tidak pernah diberi kabar. Barulah akhirnya, setelah  2 (dua) minggu, keluarga mendapat kabar dari pihak lain dan langsung pergi ke Polresta Bandara Soetta.

Ternyata benar, Alma Fadilah sudah dijadikan Tersangka dan ditahan. Tetapi Melly Juniarti dilepaskan setelah ditahan sekitar satu minggu, dengan alasan direhabilitasi atas permintaan orangtuanya. 
Kacau lagi …..??

– Yang dijadikan Tersangka oleh Penyidik dan dikirim berkas ke Kejaksaan, adalah ; Alma Fadilah, Zaenal Abidin dan Iqbal Abdul Luthfi – Sementara Melly Juniarti dilepaskan.

Anehnya, Iqbal pemilik kost beserta pacarnya (Sifa), justru sama sekali tidak disentuh.

Parahnya lagi, Naufal Royan sampai saat ini tidak jelas kasusnya. Padahal, Naufal Royan yang memesan dan membayar paket dari China tersebut.

Terlihat jelas sekali. Dimana dalam proses perkara ini sangat janggal dan penuh rekayasa.

Yang menjadi pertanyaan kami dan mohon perhatian dari  Jamwas Kejaksaan Agung RI, adalah :

1. Mengapa Jaksa Tri Hariyatun, SH., menyatakan, bahwa Berkas Perkara Alma Fadilah lengkap atau P21. Padahal sudah jelas kronologisnya seperti itu.

Terlihat sekali, perkara Alma Fadilah ini terkesan dipaksakan. Hal ini terbukti, bahwa berkas baru dinyatakan P21 setelah masa penahanan hampir habis, hampir 120 hari di Penyidik.

2. Kenapa Jaksa Tri Hariyatun, SH., menerima Berkas Tersangka Zaenal Abidin dan Alma Fadilah, akan tetapi tidak mempermasalahkan Tersangka Naufal Royan ? Padahal ketiga orang ini ada dalam Satu Perkara, satu Laporan Polisi, yakni Perkara Paket dari China, apalagi biang keroknya adalah Naufal Royan.

3. Ternyata, Zaenal Abidin sudah dituntut 11 (sebelas) tahun dan divonis 8 (delapan) tahun penjara. Sementara Iqbal Abdul Luthfi dituntut 6 (enam) tahun dan divonis 5 (lima) tahun penjara. Kembali keanehan pun terjadi, dimana Alma Fadilah dituntut 7 (tujuh) tahun, hanya karena menerima paket Narkotika dimaksud.

Pertanyaannya: Vonis ini dalam perkara yang mana..? Apakah perkara terkait paket dari China..? Atau perkara penangkapan ke-dua di Cileunyi..?

Jelas sekali, kedua perkara ini berbeda, dan tidak saling terkait, yaitu :

a. Penangkapan terhadap Alma Fadilah adalah atas perkara paket dari China, dengan Tersangka ; Naufal Royan, Zaenal Abidin dan Iqbal Abdul Luthfi

b. Penangkapan ke-dua adalah di Cileunyi, ketika hendak menangkap Zaenal Abidin yang ternyata sedang mengolah Narkotika bersama Iqba Abdul Luthfi, dan narkotika yang di-olah sama sekali tidak terkait dengan paket dari China. (Penangkapan ini tidak sengaja, seharusnya ini wilayah hukum Polda Jabar)

4. Laporan Polisi, Sprin Sidik sampai SPDP yang dibuat Penyidik, bahwa Tempat Kejadian Perkara (TKP) adalah Cargo Bandara Soekarno Hatta Tangerang wilayah hukum Banten. Akan tetapi dalam dakwaan Jaksa Tri Hariyatun, SH., menyatakan, bahwa Tempat Kejadian Perkara (TKP) adalah di Gg. Aki Rohanda Desa Sindanglaya, Kecamatan CImenyan, Kabupaten Bandung, wilayah hukum Jawa Barat.

Apakah ini untuk mengaburkan kedua perkara di atas..? Terbukti, bahwa Zaenal Abidin dan Iqbal Abdul Luthfi sudah DIVONIS, namun tidak jelas dalam Perkara yang mana?

Atas dasar pemaparan di atas, kami menyampaikan apa yang menjadi Fakta Persidangan, untuk menjadi bahan Kejaksaan Agung menertibkan para Jaksa, khususnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tri Hariyatun, SH., agar tidak menyalahgunakan wewenangnya, ucap Leni Maemunah.

Sebagai data pelengkap guna memperkuatnya, turut kami kirimkan Dakwaan Jaksa Tri Hariyatun, SH., dan Nota Pembelaan yang dibuat oleh Penasehat Hukum. (Tim JN/Elang Maut)