BNNK & Lapas Sumbawa Komitmen Wujudkan Wilayah Bebas Narkoba (Bersinar)

JAYANTARA NEWS, Sumbawa 

Upaya mencegah peredaran gelap Narkoba yang menjadi salah satu musuh bersama, selain mencegah penyalahgunaan Narkoba, psikotropika dan zat aditif (Napza) lainnya, Lapas Kelas II A Sumbawa menggandeng BNNK Sumbawa melaksanakan tes urine, sekaligus sosialisasi pencegahan akan bahaya Narkoba, Selasa (30/6).

Ini adalah salah satu ikhtiar untuk membentengi semua pegawai, Staf Lapas Sumbawa dari peredaran barang berbahaya tersebut.

Sementara itu, saat ditemui JAYANTARA NEWS di ruang kerjanya, Kepala Lapas Kelas II A Sumbawa M. Fadli, A.Md, S.sos, MM mengatakan, upaya pencegahan itu sesuai dengan amanat dalam Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2018, yakni tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika (P4GN).

“Kami berupaya untuk mencegah penyalahgunaan Narkoba. Pertama kami awali di lingkungan kerja. Kami mencegah jangan sampai pegawai kami ada yang menggunakan Narkoba dan masuknya Narkoba di dalam lingkup Lapas ini,” ungkapnya.

Selanjutnya ia memaparkan, bahwa tujuan dari test urine serta sosialisasi ini, tidak hanya mencegah pegawai dari penyalahgunaan Narkoba saja dan Lingkungan Lapas Kelas II A Sumbawa bersih dari Narkoba (Bersinar). Tetapi, juga harus ikut berperan aktif dalam pemberantasan Narkotika. “Pelaksanaan test urine dan sosialisasi ini supaya para pegawai tahu dulu arti dan jenis Narkoba. Kemudian mengetahui soal bahayanya. Selanjutnya aktif mencegah, paparnya.

Adapun jumlah keseluruhan pegawai Lapas sebanyak 76 orang mengikuti test urine guna mencegah peredaran serta penyalahgunaan Narkoba yang digelar bersama BNNK Sumbawa. “Lapas Sumbawa sejak tahun ini juga telah melakukan program rehab bagi warga binaan (Napi) Narkoba, dan hampir 40% penghuni Lapas dari para pencandu Narkoba,” ucapnya.

Kendati demikian, warga binaan (Napi) Narkoba juga diberikan binaan dengan pendekatan spiritual, dan tegakkan aturan secara tegas dengan tidak diberikan remisi serta tidak segan-segan akan dipindahkan ke Lapas Nusakambangan, tukasnya.

Kemudian di tempat yang sama, Kepala BNNK Sumbawa melalui Kasi P2M Nursyafruddin menjelaskan merujuk pada Inpres tersebut memang diharapkan instansi pemerintahan dan swasta menggelar P4GN untuk mencegah Narkoba. Namun diakui, pelaksanaan test urine yang digelar di Lapas Sumbawa ini merupakan salah komitmen Lapas Sumbawa untuk mewujudkan Lapas bersih dari Narkoba.

“Apalagi kedepannya, Lapas Kelas II A Sumbawa akan menjadi acuan sebagai Lapas khusus Narkoba yang ada di Pulau Sumbawa,” ungkapnya.

Ia juga berharap, agar test urine Narkoba serta sosialiasi pencegahan Narkoba tidak hanya dilakukan oleh Lapas Kelas II A Sumbawa saja, namun juga dari lembaga instansi lainnya.

“Saat ini sudah ada 3 juta penyalahguna Narkoba dan obat terlarang. Maka dari itu, semua instansi diharapkan melakukan P4GN. Sebab modus peredaran barangnya, sekarang memanfaatkan kurir barang,” ujar Nur saat ditemui JAYANTARA NEWS, Selasa (30/6).

Oleh karena itu, ia mewanti-wanti supaya lebih waspada terhadap pengiriman barang yang sebelumnya tidak pernah dipesan. Karena cara semacam ini sering digunakan penjual untuk menjebak korban. “Harapan kami pada tahun 2020 ini semua instansi, baik swasta maupun pemerintahan sudah melakukan P4GN,” tandasnya.

Selanjutnya, saat ini ada sekitar 803 jenis new psychoactive substances (NPS), dan 74 di antaranya ada di Indonesia. Dari jumlah puluhan itu baru 66 jenis yang sudah diundangkan dalam Permenkes nomor 20 Tahun 2018.

Selain itu, 80 persen penyebaran barang haram tersebut dari jalur laut. Indonesia menjadi daerah yang strategis sebagai tujuan distribusi Narkoba. Menurutnya, Kab. Sumbawa sudah masuk fase darurat Narkoba, juga bisa dianalogikan sebagai miniatur Indonesia karena memiliki garis pantai panjang dan berbatasan dengan daerah lainnya. Tidak hanya itu, penjualan Narkoba saat ini juga sudah semakin canggih. Penjual dan bandar memanfaatkan dunia maya.

Selain itu, Narkoba yang perlu diwaspadai lagi adalah penyalahgunaan obat. Pil koplo alias doubel L merupakan obat keras yang mudah ditemukan dan harganya pun murah. Biasanya menyasar pelajar. Data yang dipaparkan BNN, pelajar menduduki urutan teratas konsumen Narkoba, tutupnya. (Dhy JN)

0Shares