HomeLintas BeritaTanpa Bertumpu Pada Tujuan Wisata Berkelas Dunia, Bisakah Pangandaran Tetap Maju?

Tanpa Bertumpu Pada Tujuan Wisata Berkelas Dunia, Bisakah Pangandaran Tetap Maju?

Oleh: Muhlis Nawawi Aziz, S.Pd: Ketua Aliansi Santri & Kyai Kab. Pangandaran

JAYANTARANEWS.COM, Pangandaran 

Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang  berdaulat, bersatu dalam suasana perkehidupan bangsa yang aman, tenteram, tertib, dan dinamis dalam lingkungan pergaulan dunia yang merdeka, tertib dan damai.

Hakikat dari tujuan pembangunan nasional itu sendiri adalah untuk mewujudkan tujuan nasional, seperti termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea 4, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan  perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Kabupaten Pangandaran dengan luas wilayah 168.509 Ha atau 1.134,23 M², dengan luas laut 67.340 Ha dan memiliki panjang pantai 91 Km, dengan jumlah penduduk berdasarkan catatan pada akhir Desember 2021 sebanyak 432.599 jiwa.

Jika merujuk pada laporan Pemkab Pangandaran tahun 2021, pembangunan pariwisata merupakan prioritas sesuai visi dan misi, bahwa Kabupaten Pangandaran sebagai tujuan wisata berkelas dunia, pencapaian visi dan misi tersebut dibuat guna terwujudnya reformasi birokrasi, pelestarian seni budaya, pengamalan nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan, serta meningkatnya pertumbuhan ekonomi berkualitas dan berkelanjutan.

Pada laporan tersebut juga disebutkan, dari realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun anggaran 2021 sebesar 175 milyar, 90,6 milyar dari sektor retribusi, dan sisanya dari sumber PAD yang sah.

Sektor pajak yang menghasilkan pendapatan sebanyak 50 milyar, pendapatan terbanyak justru dari pajak penerangan jalan sebesar 14,2 milyar, pajak bumi dan bangunan sebesar 12,9 milyar, sementara pajak pendukung seperti pajak hotel hanya menyumbang 9,5 milyar, pajak restoran 3,5 milyar, pajak hiburan 113 juta, dan pajak reklame 1,6 milyar saja.

Sementara dari sektor retribusi yang menghasilkan 90,6 milyar, sumbangan terbesar justru dari retribusi pelayanan kesehatan sebesar 66,2 milyar, sedangkan retribusi tempat rekreasi dan olahraga hanya menyumbang 16,7 milyar.

Pandemik Covid-19 yang melanda, pastilah dijadikan alasan utama oleh Pemkab Pangandaran atas kurangnya realisasi pendapatan dari sektor pariwisata. Namun jika merujuk pada data statistik BPS Jawa Barat (jabar.bps.go.id) di sebutkan, jika pada tahun 2016, pajak daerah di Pangandaran hanya sebesar 29,2 milyar dan retribusi hanya 10 milyar saja. Hal itu menunjukkan jika setiap tahun terdapat peningkatan pendapatan yang signifikan pada sektor PAD, namun sektor pariwisata ternyata tidak menjadi penyumbang terbesar dalam PAD tersebut.

Visi dan misi tahun 2016 – 2021 yang menyatakan Kabupaten Pangandaran sebagai tujuan wisata berkelas dunia, yang dikuatkan dengan surat edaran keputusan Bupati Pangandaran No.130/Kpts.152-Huk/2020 tentang penetapan ikon dan tagline disebutkan, jika pemilihan ikon jangilus atau sering disebut ikan marlin yang berkarakter aktraktif, lincah, dan kuat, sehingga mencerminkan semangat yang kuat pada Pangandaran hebat.

Sementara dalam tagline World Class Destination, dapat diartikan sebuah pelaksanaan pencapaian dan sasaran Kabupaten Pangandaran menjadi tujuan wisata mancanegara, sehingga menjadikan Pangandaran siap menjadi salah satu destinasi terbaik tujuan kunjungan wisata dunia (dikutip dari Humas pangandarankab.go.id).

Penempatan visi dan misi tahun  2016-2021 yang menyatakan, Kabupaten Pangandaran sebagai tujuan wisata berkelas dunia tidaklah tanpa resiko. Terbaru, serangan wabah Covid-19 bisa meluluhlantakan bisnis pariwisata di seluruh dunia termasuk di Pangandaran.

Kawasan pantai Pangandaran memang telah lama dikenal sebagai kawasan pariwisata. Meski begitu, kawasan ini berombak besar, sering memakan korban. Dan berdasarkan pada peta keluaran Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sebagian besar kawasan ini termasuk berpotensi bencana tsunami level tinggi, seperti yang pernah terjadi pada tahun 2006 silam.

Selain itu, Pemkab Pangandaran juga harus belajar dari kasus Pan Asia Hash 2022 kemarin. Dimana akibat dari pelaksanaan kegiatan tersebut menuai polemik dan kecaman keras dari kalangan ulama dan pemuka agama.

Menjadikan Kabupaten Pangandaran sebagai tujuan wisata berkelas dunia tidaklah salah, namun membangun kemandirian daerah demi memajukan kesejahteraan penduduk tidaklah cukup dari satu sektor saja.

Berdasarkan data yang disajikan Pemkab Pangandaran diketahui, jika potensi untuk mengembangkan daerah sangatlah beragam. Sektor yang sangat potensial justru ada pada bidang perikanan, kehutanan, dan perkebunan dengan produk unggulan yang bisa diandalkan.

Tercatat, dari 91 Km garis pantai perikanan dari sektor laut, secara tradisional mampu bertahan dari krisis yang terjadi. Diketahui, jika dari 2.871 nelayan memiliki 1.962 kapal, dan terdapat 13 Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dengan produksi tangkapan 1.594.532,86 Kg, atau 1.594,5 ton dari 13 TPI tersebut, Pemkab Pangandaran mendapatkan PAD retribusi sebesar 1,93 milyar pada tahun 2021. Sementara dari perkebunan dengan produk unggulan buah kelapa dari lahan seluas 25.265,9 Ha, tercatat produksi tahun 2021 dapat mencapai 13.147,67 ton untuk kelapa dalam dan kelapa deres dari lahan seluas 8.857,42 Ha bisa memproduksi 71.624,03 ton nira. Belum lagi potensi bahan baku dan pengembangan kerajinan tangan yang berasal dari lidi kelapa yang sedang digemari. Tercatat pula, jika produksi aren, kakao, cengkeh, dan kopi robusta sangatlah signifikan dan menanti untuk dikembangkan.

Mengutip dari pernyataan Bupati Pangandaran, Jeje Wiradinata, pada Milangkala ke 10 Pemerintah Daerah Pangandaran yang diberitakan oleh timesindonesia.co.id.,
“Motto Pangandaran Jaya Karsa Makarya Praja”, bahwa pembangunan Kabupaten Pangandaran lahir dari ide-ide dan aspirasi masyarakat Kabupaten Pangandaran.

Oleh karena itu, semoga ide dan aspirasi ini dijadikan masukan yang baik bagi pembangunan di Kabupaten Pangandaran. (Adipati JN)

Stay Connected
16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe
Must Read
Related News