Janggal! Rabat Beton Desa Muktisari Gandrungmangu, Diduga Tak Sesuai Spek

JayantaraNews.com, Gandrungmangu

Proyek infrastruktur rabat beton Jalan Gerilya RT/RW 06/01, Desa Muktisari, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, diduga tidak sesuai dari spek yang ditentukan.

Proyek pengecoran jalan desa dengan panjang 419 M x Lebar 3 M x Tinggi 20 Cm yang bersumber dari Dana Desa (DD) dengan anggaran sebesar Rp 341.020.000,- tersebut, diduga tidak mencapai mutu dan kualitas yang baik sesuai yang diharapkan masyarakat.

Pada Senin (20/8/2019), Tim JayantaraNews.com melakukan investigasi dan konfirmasi ke lokasi pekerjaan.

BPD Desa Mekarsari bersama Saepi selaku pelaksana pekerjaan proyek rabat beton yang sedang berkumpul di rumah Ketua RW 01, menuturkan,” Pasir yang dipakai adalah pasir Cikalong atau pasir beton dan cor. Tidak tahu mana pasir cor yang bagus dan mana pasir cor yang kurang bagus.”

Menurut BPD harus ada pembanding, begitu juga batu splitnya.

Tim JayantaraNews.com, mengajak Saepi selaku TPK sekaligus Kadus di Desa Muktisari, untuk mengcrosscheck bersama ke proyek dimaksud. Nyatanya, setelah di ukur bersama-sama, ketebalan yang sudah ditentukan dan dicantumkan di papan proyek kegiatan tersebut, dari mulai panjang 419 M x Lebar 3 M x Tinggi 20 Cm, ternyata hanya didapat ketinggian maupun tebalnya hanya 12 Cm. Pertanyaannya, di kemanakan yang 8 Cm-nya ?

Menurut TPK dan BPD, terkait kejanggalan tersebut, nantinya akan ditambah lagi agar mencapai ketebalan 20 Cm, sedangkan pekerjaan sudah dilaksanakan. 

Kami, dari Tim JayantaraNews.com, di arahkan untuk ke Kantor Desa Muktisari menemui Kepala Desa Muktisari Suyoto untuk konfirmasi lebih lanjut.

Sementara Kades Suyoto mengatakan, bahwa semua pelaksanaan pekerjaan rabat beton itu sudah diserahkan kepada TPK dan pemenang lelang, sehingga dia selaku kepala desa tidak tahu kalau pekerjaan rabat beton tersebut terjadi pengurangan volume, baik ketinggian maupun ketebalan di tengah-tengah. ” Kalau di samping sesuai, yaitu 20 Cm seperti yang tercantum di papan proyek,” kata Suyoto.

Menyimak dari kejanggalan tersebut, ada dugaan, bahwa Suyoto selaku kepala desa sekaligus penanggung jawab terkait proyek dimaksud, dianggap lalai dan tidak pernah meninjau ke lapangan pekerjaan tersebut.

Salah satu perangkat desa mengatakan, bahwa mereka berpegangan ke kubikasi, bukan kepada mutu dan kualitasnya, sehingga terjadilah di lapangan dengan pasir yang kurang bagus, batu split yang tidak jelas ukurannya. Padahal, pasir tersebut merupakan salah satu material yang sangat menunjang untuk mencapai kualitas mutu beton yang bagus.

Menurut STR, salah satu warga masyarakat yang ikut bekerja di pembangunan proyek rabat beton tersebut yang dipanggil oleh Kadus Suwarno selaku anggota Tim TPK, menduga, bahwa dirinya (STR) yang mengadukan kepada media tentang pelaksanaan proyek rabat beton Jalan Gerilya Desa Muktisari, Gandrungmangu, yang berimbas cekcok adu mulut antara keduanya, antara Kadus Suwarno dengan STR.

Di sini jelas, bahwa mereka selaku Tim TPK tidak suka kalau pekerjaan proyek rabat beton tersebut diketahui oleh media selaku sosial kontrol. Padahal, kalau tidak salah, kenapa harus takut kepada media/wartawan, tutur STR.

STR, yang merasa ngga enak akan gejolak yang muncul terkait pembangunan rabat beton dimaksud, akhirnya, dia pun berhenti dan tidak ikut bekerja lagi di proyek tersebut. (Tim JN/Sukendar)

0Shares